Tampilkan postingan dengan label Produktivitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Produktivitas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2022

Menjadi Pemerintah Tangkas dan ASN Agile

Sampul Buku ASN Juga Bisa Agile

Visi Pemerintah Tangkas adalah mewujudkan ketangkasan dalam pemerintahan Indonesia. Hal itu dilakukan dengan cara berkontribusi aktif untuk mewujudkan keselarasan antara Agile dengan birokrasi dalam pemerintahan Indonesia. Tujuannya adalah agar pemerintahan Indonesia dapat meningkatkan efisiensi dalam birokrasi dan menyediakan layanan publik yang optimal.

Perlahan tapi pasti, visi tersebut mulai terwujud. Salah satu contohnya adalah di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Perubahan pola pikir merupakan hal yang paling utama karena beralih dari Waterfall ke Agile memang harus dimulai dari pola pikir. DJP juga melakukan adaptasi terhadap Scrum Framework agar Agile dapat berjalan dengan maksimal di dalam tubuhnya. DJP bahkan menyusun regulasi khusus agar penerapan Agile tidak dinilai menyalahi kebijakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) miliknya sendiri.

Pengalaman panjang penerapan Agile di DJP dipadukan dengan pemahaman yang kuat terkait Agile akhirnya menghasilkan sebuah buku berjudul “ASN (singkatan dari Aparatur Sipil Negara) Juga Bisa Agile”. Isinya merupakan hasil pemikiran langsung dari pegawai DJP yang terlibat dalam penerapan Agile di DJP sejak inisiatifnya dimulai. Kombinasi dari kompetensi si Pegawai sebagai praktisi Agile bersertifikasi dan pengalamannya mengikuti penerapan Agile di DJP itu yang membuat bukunya menarik untuk dibaca.

Di dalam buku itu, teori-teori tentang Agile dan Scrum Framework dan kebutuhan riil untuk menerapkan Agile di DJP dipadukan dengan baik. Faktor-faktor krusial untuk membentuk budaya Agile seperti dukungan pihak-pihak non-TIK dan proses penyusunan regulasi Agile di DJP ikut dibahas di dalam buku tersebut. Lika-liku lainnya seperti multi-tasking, dokumentasi, atau perencanaan dalam Agile juga tidak luput dibahas di dalam buku tersebut.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa buku “ASN Juga Bisa Agile” tidak berisi hal-hal teknis saja. Topik-topik di tingkat organisasi seperti pembentukan pemahaman yang tepat terhadap Agile dan tips untuk membentuk budaya Agile juga ikut dibahas. Pembahasan itu diselaraskan dengan topik-topik teknis di tingkat tim seperti Product Owner, Scrum Master, Development Team, atau story points. Hasilnya adalah kombinasi yang menyeluruh terkait proses penerapan Agile dari awal hingga stabil dan dari tingkat atas hingga tingkat bawah.

Secara garis besar, “ASN Juga Bisa Agile” membahas banyak hal penting terkait penerapan Agile di DJP yang secara umum dapat diterapkan di instansi pemerintah lainnya. Bukan tidak mungkin buku tersebut dijadikan salah satu referensi bagi penerapan Agile di pemerintah. Kalaupun tidak dijadikan referensi, ada banyak hal yang dapat diadopsi atau diadaptasi oleh setiap instansi agar penerapannya sesuai dengan kebutuhan instansi masing-masing.

Bagi yang berminat, informasi lebih lanjut mengenai buku “ASN Juga Bisa Agile” ada di asyafrudin.id/asn-juga-bisa-agile/. Bila ingin bertanya lebih dalam mengenai isi buku tersebut atau sekadar ingin berdiskusi mengenai penerapan Agile di pemerintahan Indonesia, penulisnya, Amir Syafrudin, dapat dikontak lewat Twitter atau LinkedIn. Pertanyaan yang lebih umum terkait Agile pun akan direspons dengan senang hati oleh si Penulis.

Mari menjadi ASN yang tangkas!

--

Dipublikasikan kembali dari Buku: ASN Juga Bisa Agile

Kamis, 28 Agustus 2014

11 Aplikasi Android Penunjang Produktivitas

Dan blog ini pun akhirnya di-update kem... Ah sudahlah. Saya mulai saja.

Saya sudah lama menggunakan Android sebagai sistem operasi pilihan di smartphone saya. Smartphone pertama yang saya miliki adalah (Samsung) Galaxy Note yang merupakan... *uhuk*... kado ulang tahun dari istri saya. Galaxy Note itu menjadi andalan untuk menunjang kebutuhan hidup saya sehari-hari, mulai dari hal-hal yang produktif hingga hal-hal yang kurang produkt... maksud saya, hingga hal-hal yang sifatnya hiburan semata.

Android*
Beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk membeli (Lenovo) A859. Dengan kehadiran A859 itu, otomatis saya harus memindahkan aplikasi-aplikasi andalan saya yang biasa saya gunakan di Galaxy Note. Sayangnya A859 itu harus rawat inap karena fitur GPS-nya bermasalah, yaitu tidak bisa menentukan lokasi. Dengan kepergian A859 itu, otomatis saya harus mengaktifkan kembali Galaxy Note saya (yang sudah di-reset ke factory settings karena hendak saya jual). Dalam proses migrasi yang menjemukan dan melelahkan ini, saya menyimpulkan bahwa dari semua aplikasi Android yang saya pakai, hanya ada beberapa aplikasi yang benar-benar menjadi andalan saya. Berikut ini adalah deskripsi singkat dari aplikasi-aplikasi tersebut dan manfaat yang saya rasakan selama menggunakannya.

Clean Master
Yang pertama adalah Clean Master. Clean Master ini sudah menjadi andalan saya untuk membersihkan storage di Android saya dari file yang sudah tidak terpakai, misalnya cache dari berbagai aplikasi atau file yang tersisa setelah uninstall (menghapus) sebuah aplikasi. Selain itu, Clean Master juga saya gunakan untuk mengelola aplikasi di Android saya seperti proses pemindahan ke SD Card atau menonaktifkan/menghapus aplikasi-aplikasi yang sudah tidak terpakai.

WhatsApp
Yang kedua adalah WhatsApp (Messenger). WhatsApp sudah lama menjadi aplikasi andalan saya untuk urusan instant messaging atau chatting. Proses instalasinya (dan juga migrasinya) mudah karena hanya memerlukan nomor mobile phone yang sama. Tampilannya tidak ribet dan tidak direcoki iklan atau embel-embel lainnya. Intinya, simple.

Any.do
Yang ketiga adalah Any.do. Any.do adalah aplikasi to-do list andalan saya. Fitur-fitur yang membuat saya memilih Any.do di antara segudang aplikasi sejenis adalah fitur sinkronisasi dengan menggunakan akun Google, pengaturan recurring task (aktivitas berulang) yang terbilang fleksibel (bahkan untuk versi gratisnya), dan pilihan snooze yang variatif (ada pilihan snooze selamat 3 jam atau bahkan 1 hari saat saya sedang super malas, eh, sibuk). Sudah ada beberapa aplikasi sejenis yang pernah saya coba (salah satunya adalah Wunderlist), tapi saya belum berhasil menemukan pengganti Any.do untuk Android saya.

Andromoney
Yang keempat adalah Andromoney. Andromoney adalah aplikasi yang saya andalkan untuk mengelola keuangan pribadi saya. Aplikasi ini mendukung mata uang rupiah, pengelolaan lebih dari 1 rekening (tunai, bank, dsb.), pengkategorian pengeluaran/pemasukan, dan mampu menampilkan laporan pengeluaran/pemasukan yang enak dilihat dan mudah dimengerti dengan rentang waktu yang fleksibel. Satu-satunya hal yang mengganjal adalah mode pengelolaan anggaran untuk masing-masing kategori pengeluaran yang berbasis persentase dari anggaran bulanan, padahal menurut saya akan lebih baik bila setiap kategori memiliki anggaran sendiri dan keseluruhannya dapat dijumlahkan menjadi anggaran bulanan. Walaupun begitu, isu mengenai pengelolaan anggaran ini tidak signifikan sehingga saya tetap memutuskan Andromoney sebagai aplikasi pengelolaan keuangan andalan saya.

BRIMobile
Yang kelima adalah BRIMobile. BRIMobile adalah aplikasi mobile banking dari BRI. Apa yang istimewa dari BRIMobile? Aplikasi ini menjadi andalan saya karena dengan aplikasi ini saya bisa menggunakan Internet Banking tanpa menggunakan token yang dikirim via SMS. Dengan fitur Internet Banking, saya bisa menggunakan aplikasi ini tanpa tambahan biaya (berbeda dengan SMS Banking yang memotong pulsa). Dengan token yang "hard-coded" saat proses instalasi aplikasi ini, setiap transaksi tidak lagi mengharuskan kita memasukan token. Tidak lagi saya harus menunggu token atau mengorbankan pulsa untuk menerima token tersebut. Walaupun begitu, aplikasi ini tetap mengharuskan kita memasukan password untuk setiap transaksi (untuk meminimalisir kebocoran yang mungkin terjadi). Dengan kelebihan-kelebihan ini, BRIMobile menjadi aplikasi Internet Banking andalan saya sebagai nasabah BRI.

WPS Office
Yang keenam adalah WPS Office. WPS Office (sebelumnya bernama Kingsoft Office) adalah andalan saya dalam mengakses/mengolah dokumen, spreadsheet, dan presentasi di Android. Yang membuat aplikasi ini lebih istimewa adalah fitur yang memungkinkan saya untuk mengedit dokumen-dokumen yang saya simpan di Google Drive secara langsung. Saya memang belum menggunakan aplikasi ini secara intensif (karena saya masih merasa nyaman menggunakan laptop saat mengolah dokumen), tapi saya pribadi memang belum menemukan aplikasi sejenis yang bisa menggeser WPS Office dari Android saya.

Bittorrent Sync
Yang ketujuh adalah Bittorrent Sync. Bittorrent Sync sudah lama menjadi aplikasi andalan saya untuk sinkronisasi dokumen antara Android dan laptop saya. Sebelumnya saya menggunakan Dropsync yang merupakan aplikasi untuk melakukan sinkronisasi antara Android dengan akun Dropbox. Untuk sinkronisasi antara akun Dropbox dengan laptop saya cukup menggunakan aplikasi resmi dari Dropbox untuk PC. Dropsync sendiri sebenarnya terbilang handal, tapi sayang versi gratisnya hanya memperbolehkan sinkronisasi 1 folder saja (tentu saja sub-folder juga tidak diperbolehkan). Ini yang menjadi salah satu alasan kenapa saya beralih ke Bittorrent Sync. Tidak hanya itu, Bittorrent Sync juga tidak menggunakan layanan cloud storage seperti Dropbox atau Google Drive sehingga sinkronisasinya murni antara Android dan laptop tanpa adanya perantara. Ini berarti batasan ukuran file dan storage yang harus kita patuhi di layanan cloud storage pun tidak lagi menjadi kendala dengan sinkronisasi menggunakan Bittorrent Sync.

Google Keep
Yang kedelapan adalah Google Keep. Google Keep merupakan aplikasi penyimpan catatan yang ringan, tanpa embel-embel, dan mendukung sinkronisasi (hampir) real-time. Aplikasi ini menggantikan posisi Evernote di Android saya karena Evernote terlalu berat dan kompleks untuk catatan-catatan ringan yang biasa saya buat. Saya tidak mengatakan Evernote itu buruk, tapi lebih kepada tidak cocok dengan pola penyimpanan catatan yang biasa saya lakukan.

Google Play Books
Yang kesembilan adalah Google Play Books (Play Books). Play Books sudah menjadi aplikasi andalan saya dalam urusan baca-membaca e-book (dalam format PDF atau EPUB). Fitur yang disediakan sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan baca-membaca saya seperti bookmark, mengingat halaman terakhir yang saya baca, dan menyimpan e-book di dalam Android saya (untuk dibaca saat saya offline). Akan tetapi, fitur yang benar-benar membuat saya beralih dari Aldiko ke Play Books adalah fitur sinkronisasi. Dengan Play Books, saya bisa membaca e-book di Android dan selanjutnya meneruskan membaca di laptop atau device lain yang saya miliki.

Google Drive dan Dropbox
Yang kesepuluh dan kesebelas (akhirnya daftar ini selesai juga saya buat) adalah Google Drive dan Dropbox. Kedua aplikasi ini adalah layanan cloud storage yang saat ini masih aktif saya gunakan. Google Drive saya gunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen yang biasa saya olah secara online menggunakan Google Docs, sementara untuk file lainnya, misalnya backup data Andromoney yang saya pakai, lebih sering saya simpan di Dropbox. Walaupun begitu, 2 aplikasi ini sebenarnya tidak terlalu penting karena saya masih bisa mengakses dokumen-dokumen di Google Drive lewat WPS Office dan backup data Andromoney pun masih bisa disimpan di tempat lain.

Demikian 11 aplikasi Android yang menunjang produktivitas harian saya. Daftar di atas tentu saja tidak mencantumkan aplikasi-aplikasi built-in (pre-installed) seperti Gmail, Google Calendar, Hangouts, dan Google Maps yang juga sulit terpisahkan dari kehidupan saya sehari-hari. Daftar tersebut pun sifatnya subjektif karena lebih banyak mengacu pada kecenderungan dan pengalaman saya sendiri dalam memilih aplikasi yang saya perlukan di dalam Android saya.

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Kamis, 16 Januari 2014

Berhenti Baca Berita

Di era Internet ini, akses terhadap berita menjadi sangat mudah. Sebelumnya kita mengandalkan koran, majalah, radio, dan televisi untuk mendapatkan berita. Sedangkan di era Internet ini, kita bisa mendapatkan berita langsung lewat handphone kita sendiri. Saat ini ada begitu banyak sumber berita yang ada di Internet sampai otak kita kewalahan untuk menampung semua berita tersebut.

Dengan banyaknya sumber berita, jumlah berita yang beredar pun meningkat pesat. Arus masuknya berita ke dalam kehidupan kita pun menjadi terlalu banyak. Hal ini yang memicu munculnya istilah information overload. Istilah ini secara tegas menggambarkan bahwa informasi yang kita terima setiap harinya sudah melebihi kapasitas pengolahan informasi itu sendiri. Walaupun begitu, istilah information overload ini tidak tepat. Istilah yang tepat adalah information overconsumption.

Tok-tok*
Istilah information overconsumption itu lebih tepat menggambarkan jumlah informasi berlebih yang kita terima karena pada dasarnya informasi itu menjadi berlebih karena kita sendiri, secara aktif, memilih untuk mengakses informasi itu secara berlebihan. Kita sendiri memiliki pilihan untuk mengakses atau tidak mengakses sebuah situs berita; baik lewat handphone, browser, maupun sarana lainnya. Kita sendiri pula yang memiliki pilihan untuk mengakses sebuah informasi atau tidak. Sebanyak apa pun berita/informasi yang mengetuk pintu kita, pilihan untuk membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk itu sepenuhnya ada di tangan kita. Jadi masalahnya bukan pada information overload, tapi pada information overconsumption.

Kembali ke berita, kenapa kita harus berhenti membaca berita? Kenapa kita harus berhenti mengakses situs-situs berita? Karena di situs-situs berita itu jumlah informasi berlebih yang tidak memiliki dampak signifikan dalam hidup kita itu berada. Dari segala bentuk informasi yang biasa kita akses sehari-hari, berita adalah informasi yang kemungkinan nilainya paling rendah. Pernyataan ini yang ingin ditegaskan oleh Rolf Dobelli dalam tulisannya News is bad for you (Berita itu buruk bagi Anda).

Dalam tulisan tersebut, Rolf Dobelli menjelaskan bahwa berita itu buruk bagi kita karena beberapa hal berikut ini:
  1. Berita itu menyesatkan.
  2. Berita itu tidak relevan dalam hidup kita.
  3. Berita itu tidak informatif.
  4. Berita itu membatasi kemampuan berpikir.
  5. Berita itu membunuh kreativitas.
5 (lima) hal di atas mungkin terkesan berlebihan. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca sendiri News is bad for you yang ditulis oleh Rolf Dobelli. Pada intinya, sesuai judul tulisannya, Rofl Dobelli ingin menegaskan bahwa berita itu memiliki dampak buruk bagi hidup kita dan berhenti membaca berita akan membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Saya pribadi merasa apa yang disampaikan Ralf Dobelli itu memang benar adanya. Seringkali saya menemukan berita dengan judul dan isi yang gak nyambung, salah fokus target berita, dan informasi yang sangat dangkal, sehingga terkesan berita itu dibuat hanya untuk mengejar target publikasi. Kondisi seperti ini paling sering saya temukan pada situs-situs berita yang kuantitas iklannya mengalahkan isi karena berita yang ditampilkan lebih ditujukan untuk menarik jumlah pengunjung yang banyak ketimbang menyampaikan berita yang komprehensif dan informatif.

Jadi apakah kita benar-benar perlu berhenti membaca berita? Jawabannya tentu saja, TIDAK; tidak sepenuhnya berhenti.

Berhenti membaca berita hampir sama dengan menutup diri dari berbagai peristiwa di sekitar kita. Pilihan ini bisa berbalik menjadi kontraproduktif karena kita akan hidup ibarat katak dalam tempurung. Bukan pola hidup seperti itu yang perlu dicapai untuk menjaga diri kita dari information overconsumption. Pola yang perlu kita capai adalah pola konsumsi informasi yang cukup untuk membuka wawasan kita tanpa harus mengorbankan waktu untuk hal-hal yang tidak relevan dalam hidup kita. Kalau kita analogikan dengan diet makanan, maka yang perlu kita lakukan bukan berhenti makan sepenuhnya. Yang perlu kita lakukan adalah makan yang cukup untuk mengobati rasa lapar seraya menghindari junk food. Dengan demikian kita akan mendapatkan tubuh yang sehat tanpa harus menahan rasa lapar.

Pola konsumsi informasi yang sehat ini dikenal dengan istilah diet informasi. Dalam konteks membaca berita, langkah-langkah berikut ini dapat dijadikan panduan diet informasi kita:
  1. Hindari news ticker.
    Apakah itu akun Twitter atau  feed dari sebuah situs berita, news ticker adalah penyebab utama information overconsumption. Walaupun kita merasa bisa mengontrol diri kita untuk tidak membuka semua berita yang disodorkan, kemungkinan kita akan terpancing oleh judul-judul yang heboh itu masih besar. Akan lebih baik kalau kita bookmark situs-situs berita andalan kita untuk kita kunjungi di waktu senggang.
  2. Hindari situs berita yang banyak iklan.
    Saat kita memilih situs-situs berita andalan itu, sebaiknya kita hindari situs berita yang banyak iklan. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, situs berita yang banyak iklan ini umumnya berisi berita yang tidak berbobot. Demi memperbanyak pengunjung, berita ditampilkan sedikit demi sedikit dengan judul yang menarik. Kondisi seperti ini jelas merusak kualitas berita karena berita yang ditampilkan kemungkinan besar tidak mendalam dan tidak komprehensif.
  3. Hindari topik-topik yang tidak relevan.
    Di setiap situs berita itu ada banyak topik karena memang didukung oleh banyak jurnalis/kontributor. Sebaliknya konsumen situs berita itu hanya ada 1, yaitu diri kita masing-masing. Perbandingan jumlah kontributor dan konsumen tersebut dengan jelas menyatakan bahwa jumlah berita yang ada jelas lebih banyak dari kapasitas konsumsi kita. Oleh karena itu akan lebih baik kalau kita menghindari topik-topik yang tidak relevan dalam hidup kita, sehingga berita yang kita konsumsi tidak hanya membuka wawasan, tapi juga bisa membantu kita membuat pilihan atau mengambil tindakan dalam hidup kita.
  4. Batasi waktu membaca berita.
    Langkah terakhir untuk membatasi jenis berita yang kita konsumsi adalah dengan membatasi waktu kita untuk membaca berita. Selihai apa pun kita dalam memilih berita yang "sehat", membatasi waktu untuk membaca berita tetap saja penting. Ibarat makanan sehat, kalau kita terlalu banyak memakannya, maka dampaknya tetap saja buruk bagi badan kita.
Isi maupun urutan dari langkah-langkah di atas bukanlah sebuah aturan baku yang kaku. Langkah-langkah tersebut dapat dikombinasikan, ditambahi, atau dikurangi dengan berbagai langkah-langkah lain. Seperti halnya diet makanan, diet informasi pun pada hakikatnya perlu disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan masing-masing orang yang menjalaninya. Yang saya cantumkan di atas hanya sebatas panduan umum tanpa melihat kebutuhan spesifik apa pun.

Waktu Terbang Pergi*
Saya pribadi sudah melakukan semua langkah-langkah tersebut: (1) Saya meminimalisir penggunaan feed reader untuk situs-situs berita; akun Twitter situs-situs berita bahkan tidak saya ikuti sama sekali. Pilihan utama saya jatuh pada bookmark. (2) Saya sudah menghindari situs-situs berita yang berisi headline bombastis tanpa laporan yang bagus. Dalam hal ini, kuantitas iklan di situs tersebut masih saya jadikan patokan. (3) Saya sudah mulai memilih topik-topik tertentu saat mengakses sebuah situs berita. Tidak semua berita utama perlu saya baca, apalagi yang tidak masuk ke dalam lingkaran minat saya. (4) Saya pun mulai membatas waktu untuk membaca berita. Tidak ada angka yang baku dalam batasan ini karena saya sudah memutuskan untuk membaca berita di waktu senggang. Bookmark yang saya miliki pun diurutkan berdasarkan kualitas informasinya sehingga memudahkan saya memilih saat waktu senggang saya terbatas.

Dari semua langkah-langkah di atas, langkah yang paling utama adalah "membatasi waktu". Dasarnya lagi-lagi serupa dengan diet makanan, yaitu dampak negatif makanan "sampah" yang kita konsumsi dapat ditekan selama kita bisa menekan jumlahnya. Begitu juga dengan diet informasi, informasi "sampah" yang kita konsumsi dapat ditekan dampak negatifnya selama kita menekan jumlahnya. Bedanya adalah kapasitas perut kita dapat dijadikan patokan untuk membatasi konsumsi makanan "sampah", sementara untuk informasi "sampah", yang dapat kita jadikan patokan adalah waktu.

Di titik ini, saya sudah merasakan sendiri dampak positif dari mengatur pola konsumsi berita dalam hidup saya. Saya tidak lagi sibuk mengejar sensasi yang ditawarkan berita terbaru. Saya tidak lagi merasa perlu mengikuti kabar terbaru di seluruh dunia ini. Waktu saya pun akhirnya bisa saya alihkan untuk mengakses informasi yang lebih relevan dan melakukan hal-hal yang lebih berarti dalam hidup saya. Dan bagian terbaik dari semua itu adalah saya sama sekali tidak merasa kudet (kurang update).

Demikian informasi yang bisa saya sampaikan terkait keputusan saya untuk mengurangi konsumsi berita sehari-hari. Langkah-langkah di atas, dikombinasikan dengan pengaturan pola konsumsi informasi di situs-situs jejaring sosial, telah secara tidak langsung meningkatkan kualitas hidup saya. Semoga saja tulisan ini juga bisa memberikan dampak positif yang sama bagi setiap pembacanya. 

--
*Gambar ditemukan lewat Google Image Search

Senin, 10 Desember 2012

Produktif Tanpa Produk Bajakan

Dan blog ini pun akhirnya di-update kembali.

Saya pernah mempublikasikan beberapa tulisan tentang open source di blog ini. Tulisan-tulisan tersebut merefleksikan dukungan saya terhadap produk-produk open source. Sebagai seorang PNS, saya pun berharap instansi pemerintah di Indonesia memperluas penggunaan produk-produk open source dalam lingkungan kerja mereka.

Alasan utama saya mendukung dan menggunakan produk-produk open source ini adalah untuk mengurangi penggunaan produk-produk bajakan dalam hidup saya. Dengan menggunakan aplikasi open source, dan berbagai alternatif freeware lain, porsi aplikasi bajakan sudah berkurang secara signifikan dalam hidup saya.

Lalu bagaimana kita bisa menjadi produktif tanpa produk bajakan? Sederhana: kita harus memiliki determinasi yang kuat untuk tetap konsisten mencari alternatif di luar produk-produk bajakan. Saya melihat sendiri bahwa banyak orang beralih ke produk bajakan karena mereka tidak mau (bukan tidak bisa) untuk keluar dari ketergantungan mereka terhadap produk bajakan itu. When there is no will, there is no way.

Mengacu kepada pengalaman saya sendiri, berikut ini adalah kompilasi freeware dan open source software yang saya gunakan untuk tetap produktif:
  1. Apache-PHP-MySQL dan Notepad++ untuk pengembangan aplikasi berbasis web.
  2. 7-zip untuk kompresi data dan kebutuhan backup data.
  3. LibreOffice untuk mengolah dokumen dan spreadsheet.
  4. AVG Antivirus Free, dilengkapi dengan NoAutorun dan kehati-hatian saat browsing di Internet, untuk menolak bala virus.
Yang saya sebutkan di atas mengacu kepada pengalaman saya pribadi. Walaupun begitu, saya sadar bahwa alternatif pilihan untuk menggantikan pilihan 1-4 di atas pun masih banyak. Sayangnya saya tidak menyempatkan diri untuk mencoba alternatif-alternatif lain satu per satu. Intinya memang bukan pada alternatif freeware atau open source software yang saya pakai, tapi lebih pada kenyataan bahwa hidup bebas dari produk-produk bajakan itu sangat memungkinkan.

Lalu bagaimana mana dengan pilihan operating system yang saya gunakan? Saya memilih Windows; yang asli tentunya.

Update [11 Desember 2012]:
Semua aplikasi yang saya sebutkan di atas, saya gunakan dengan Windows XP.

Selasa, 12 Juni 2012

Diet Informasi, Siapa yang Peduli?

Setelah 124 halaman buku The Information Diet yang ditulis oleh Clay A. Johnson dan sedikit browsing tentang diet informasi, saya pun menyadari bahwa diet informasi, sebagaimana diet-diet yang lain, juga membutuhkan komunitas. Sebuah komunitas yang sengaja dibentuk dalam rangka diet informasi seperti  situs www.informationdiet.com. Sebuah komunitas untuk bertukar tips, pendapat, dan berbagai pemikiran yang dapat membantu mencapai keberhasilan para anggota komunitas dalam diet mereka masing-masing. Dengan adanya komunitas seperti ini, setiap orang yang terlibat dapat saling mengisi dan menguatkan agar tetap bertahan untuk tidak terbawa gencarnya arus informasi yang tersedia di sekitar kita.

Saya pun mencoba googling dengan kata kunci "diet informasi", baik dengan tanda kutip maupun tanpa tanda kutip. Ternyata halaman pertama hasil pencarian dari Google tidak berhasil menemukan situs yang membahas tentang diet informasi ini. Itu pun saya sudah mencoba mencari lewat Google Indonesia (google.co.id). Entah memang tidak ada yang terpikir akan konsep diet informasi ini atau memang tidak ada yang berminat untuk membahas tentang diet informasi; yang jelas pencarian dengan kata kunci "diet informasi" ini justru menampilkan situs-situs yang membahas tentang "informasi diet"; diet makanan tentunya.

Memangnya diet informasi ini seberapa penting? Bagi saya, diet informasi itu sepenting mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer. Mulai dari situs jejaring sosial sampai berbagai situs berita sudah berhasil memancing saya untuk terus memantau mereka sampai saya sendiri merasa konsentrasi saya saat bekerja menjadi jauh berkurang. Rendahnya konsentrasi ini jelas mempengaruhi efisiensi dan efektivitas saya dalam bekerja.
... mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer.
Langkah pertama diet informasi saya tentu saja fokus pada hal di atas. Saya mulai membatasi waktu saya untuk mengakses situs jejaring sosial dan situs berita. Bila waktu saya sudah habis, saya tutup semua browser windows (atau tabs) yang tidak terkait dengan pekerjaan. Bila waktunya bekerja, saya fokus untuk bekerja. Bila waktunya mencari tahu kabar sekitar, saya pun fokus di situ. Itu artinya pikiran saya tidak terus-menerus lompat dari satu hal ke hal yang lain.Walaupun sesekali waktu saya masih membiarkan diri saya "kecolongan", pembatasan waktu ini paling tidak membantu pikiran saya untuk lebih fokus.

Pembatasan waktu di atas tentu saja fleksibel. Saya yakin pembatasan waktu yang terlalu kaku justru akan menyulitkan diri saya sendiri. Inti dari langkah di atas adalah bagaimana bisa tetap fokus pada satu hal saja. Yang penting bagi saya adalah bagaimana memikirkan setiap hal satu per satu; tidak bersamaan. Bila tiba waktunya untuk bekerja, saya ucapkan selamat tinggal kepada random browsing di Internet. Bila tiba waktunya untuk random browsing, saya tutup semua hal yang terkait dengan pekerjaan.

Peningkatan attention span di atas tidak hanya berdampak positif bagi pekerjaan saya saja. Dampak positif yang sama juga saya rasakan di tengah-tengah keluarga saya. Dengan membiasakan diri untuk tidak terlalu sering mengakses situs jejaring sosial, situs berita, dan Internet pada umumnya, saya pun membuka potensi meningkatkan quality time bersama istri dan anak saya. Dapat dikatakan bahwa saya berhasil menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat karena perhatian yang saya berikan kepada istri dan anak-anak pun meningkat.
... menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat...
It's a work in progress, of course. Saya pernah secara eksplisit menegaskan kepada diri saya sendiri untuk menjauh dari situs jejaring sosial, tapi pada kenyataannya langkah saya tidak konsisten. Semangat saya untuk menjaga diri dari konsumsi informasi yang membanjiri hidup saya itu sering mengendur. Saya pun kembali terbawa derasnya arus informasi yang masuk ke dalam otak saya. Alhamdulillah saya masih menemukan motivasi yang baru untuk memulai kembali.

Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu mengenai komunitas yang membahas diet informasi ini. Diet informasi ini, seperti halnya diet makanan, butuh penguat, yaitu sebuah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan untuk menyaring informasi trivial dari sekitarnya dan lebih fokus pada informasi yang faktual dan bermanfaat. Dengan begitu, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap anggota komunitas dapat saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Sebenarnya saya yakin ada banyak orang yang peduli dengan kuantitas dan kualitas informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Bahkan tidak sedikit orang-orang di dekat saya yang seperti ini. Orang-orang ini memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus urusannya sendiri ketimbang menghabiskan waktu menelusuri Internet pada umumnya atau timeline jejaring sosial pada khususnya. Produktif atau tidaknya orang-orang seperti ini tentu saja lain soal. Semua tergantung pada urusan yang diurus oleh masing-masing individu.

Orang-orang yang saya maksud di atas itu sudah melakukan langkah-langkah kongkrit untuk mencapai hal tersebut. Ada yang sudah membatasi akses ke situs jejaring sosial, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial mana pun. Ada yang membatasi waktu mengakses situs berita, ada yang mengatur perilaku mengakses forum-forum online, dan berbagai cara lain. Sayangnya masing-masing orang masih memilih untuk melakukannya secara pribadi.

Terlepas dari itu, perbaikan memang perlu dimulai dari diri sendiri. Ada komunitas ataupun tidak, saya tetap melangkah maju untuk mengelola kuantitas dan kualitas informasi yang saya konsumsi. Dengan berbagai dampak positif yang sudah saya paparkan di atas (dan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini), saya menganggap diet informasi ini sebagai sesuatu yang penting. Sudah waktunya bagi saya untuk lebih peduli dengan arus informasi di sekitar saya. Bagaimana dengan Anda?

--
Tulisan terkait: Timeline Management http://alfanaini.blogspot.com/2012/05/timeline-management.html

Senin, 14 Mei 2012

Timeline Management

Kembali lagi dengan tulisan seputar Diet Informasi. Kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana mengelola arus informasi dari timeline di situs-situs jejaring sosial langganan kita. Apa yang akan saya sampaikan di sini akan bersifat subjektif karena mayoritas isinya akan berkaca dari pengalaman saya sendiri. Semoga saja apa yang saya sampaikan masih cukup relevan untuk dimanfaatkan para pembaca.

Saya mulai.

Buat saya pribadi, di antara semua sumber informasi yang tersedia di sekitar saya, sumber informasi yang paling "mengganggu" adalah jejaring sosial. Dan di antara 3 (tiga) jejaring sosial yang saya ikuti, yaitu Facebook, Twitter, dan Google+, jejaring sosial yang paling "mengganggu" adalah Twitter. Dalam hidup saya, Twitter itu yang paling mampu menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan situs jejaring sosial yang lain.

Terlepas dari itu, masing-masing jejaring sosial yang saya sebutkan di atas memiliki fitur-fitur untuk mengelola arus informasi yang memenuhi timeline penggunanya. Dari masing-masing fitur inilah kita dapat menemukan pola timeline management yang sesuai dengan perilaku sosial dan kebutuhan kita terhadap informasi. Tergantung perilaku dan kebutuhan kita, fitur-fitur tersebut mungkin saja akan sangat berguna untuk membantu kita mengelola informasi yang masuk ke dalam otak kita.

technorati.com
Google+
Saya mulai dari Google+. Mengapa Google+? Bukan karena kecenderungan saya terhadap Google, tapi karena menurut saya Google+ ini seolah-olah dibuat dengan "pengelolaan arus informasi" sebagai dasarnya. Sistem "pertemanan" di Google+ ini bergantung pada Circle. Setiap kali kita ingin menambah teman, kita diharuskan memasukannya minimal ke dalam 1 (satu) circle.

Efeknya circle ini terhadap arus informasi di mana? Pertama, kita dapat memilih circle mana yang ingin kita akses. Itu artinya kita tidak perlu mengakses Stream (timeline di Google+) yang berisi update dari seluruh circle yang kita miliki. Kalaupun kita lebih nyaman mengakses Stream, misalnya karena tidak mau repot buka circle satu per satu, Google+ pun menyediakan fitur untuk membatasi informasi yang masuk ke dalam Stream dari setiap circle.

Misalkan kita memiliki circle "Menarik", "Teman", "Rekan Kerja", dan "Gak Jelas Juntrungannya". Kita bisa saja mengakses circle "Menarik" yang berisi informasi yang memang menarik untuk kita ikuti tanpa harus membuka Stream. Seandainya kita lebih nyaman mengakses informasi lewat Stream, kita bisa atur supaya "Gak Jelas Juntrungannya" itu tidak muncul sama sekali di Stream kita. Praktis, bukan?

blur-marketing.com
Facebook
Berikutnya adalah Facebook. Facebook ini pernah menjadi jejaring sosial yang paling "ramai" dalam hidup saya. Kenapa "ramai"? Karena fitur untuk mengelola arus informasi di Facebook ini sangat terbatas. Seiring dengan munculnya fitur List dan Subscriptions, timeline management di Facebook menjadi lebih mudah. Dalam konteks pengelompokan informasi, fungsi list di Facebok mirip dengan fungsi circle di Google+.

Sayangnya list di Facebook ini tidak menyediakan fitur untuk membatasi agar informasinya tidak masuk ke dalam News Feed (timeline di Facebook). Untuk fitur yang satu ini, circle di Google+ jelas lebih to the point. Kalaupun kita ingin orang-orang tertentu tidak masuk ke dalam News Feed kita, kita harus unsubscribe satu per satu dari akun masing-masing orang.

blog.backupify.com
Twitter
Yang terakhir adalah Twitter. Twitter ini sepertinya memang jejaring sosial yang dirancang untuk membanjiri hidup kita dengan informasi. Hubungan "pertemanan" di Twitter didasari oleh saling follow. Jadi saat kita berteman dengan orang lain di Twitter, kita sudah secara otomatis membuka pintu untuk masuknya arus informasi yang lebih banyak lagi.

Konsep "pertemanan" Twitter di atas sangat berbeda dengan Google+ dan Facebook. Di Google+, kita "berteman" dengan memasukan seseorang ke dalam salah satu circle kita. Akan tetapi, kita bisa saja memasukan orang itu ke dalam circle yang isinya tidak masuk ke dalam Stream kita. Di Facebook, kita "berteman" dengan menjadi Friends. Dengan fitur Subscriptions, kita bisa saja unsubscribe dari teman kita ini sehingga informasinya tidak masuk ke dalam News Feed kita.

Untungnya Twitter pun menyediakan List. Dengan adanya list di Twitter ini, kita bisa mengikuti informasi sebuah akun Twitter lewat list tanpa harus follow akun tersebut. Itu artinya informasi dari akun tersebut dapat diakses lewat list terkait tanpa harus memenuhi timeline Twitter kita.

Penutup
Fitur-fitur yang saya paparkan di atas itu cukup membantu kita mengelola banyaknya informasi yang kita akses lewat timeline kita. Bila kita perluas pembahasan ini ke berbagai third party application, tentu akan ada lebih banyak fitur lain yang jauh lebih baik. Akan tetapi, hal penting yang perlu kita ingat adalah tools tidak akan berguna tanpa determinasi yang kuat dari kita sebagai pengguna tools. Secanggih apa pun fitur yang dapat membantu kita mengelola informasi di timeline, tidak satu pun akan berguna bila kita sendiri tidak punya keinginan untuk mengelola informasi itu.

Hal penting lain yang perlu kita ingat adalah dasar dari pengelolaan informasi ini bukan karena adanya information overload, tapi justru karena perilaku information overconsumption dari kita sendiri. Kita yang memutuskan untuk memasukan seseorang ke dalam circle, menjadi Friends dengan seseorang, atau follow seseorang. Jadi pada dasarnya kita sendiri yang memutuskan untuk membuka/menutup kran informasi di situs jejaring sosial langganan kita.

Hal pertama yang kita butuhkan adalah kesadaran, yaitu kesadaran bahwa kita sendiri yang membiarkan diri kita dibanjiri informasi. Kita harus berhenti menyalahkan banyaknya informasi yang beredar di Internet dan mulai membenahi perilaku kita dalam mengakses informasi di Internet. Bila kita mampu menanamkan kesadaran ini, mengelola informasi hanya semudah menekan tombol log out, mematikan smartphone, atau bahkan menghapus akun-akun yang mengganggu itu. Tidak perlu repot, bukan?

Rabu, 29 Februari 2012

Diet Informasi, Sebuah Konsep

http://lifehacker.com/5872436/how-to-start-your-information-diet
Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan buku (e-book) dengan judul yang menarik: The Information Diet. Cover dan deskripsi buku ini menarik minat saya untuk membacanya. Terus terang pada awalnya saya agak skeptis akan mendapatkan sesuatu yang baru dari buku ini, tapi saya beruntung karena saya memutuskan untuk tetap membacanya.

Sampai saat blog post ini saya buat, saya baru menyelesaikan 3 (tiga) bab pertama di buku itu. Agak sulit memaksakan diri untuk membaca buku di tengah kesibukan, kemalasan, dan rendahnya minat membaca saya. Bagi saya sendiri, 3 (tiga) bab dari sebuah buku yang pada dasarnya tidak terlalu relevan dengan kebutuhan saya adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

3 (tiga) bab pertama di buku itu sudah memberikan banyak pelajaran penting bagi diri saya. Bagi saya pribadi, 3 (tiga) bab pertama di buku itu berhasil membuka wawasan saya mengenai pola konsumsi informasi di era Internet dan jejaring sosial saat ini. Bukan sekedar membuka wawasan, saya bahkan berani mengatakan buku ini berhasil merubah persepsi saya mengenai pola konsumsi informasi ini.

Perubahan persepsi yang paling saya rasakan adalah tentang konsep information overload. Konsep ini sangat umum digunakan oleh berbagai pihak untuk menggambarkan betapa banyaknya informasi yang kita terima. Situs berita, situs jejaring sosial, situs blog, dan berbagai situs-situs lain telah berhasil memberikan sebegitu banyaknya informasi untuk kita konsumsi dalam kondisi campur aduk tak tentu. Information overload ditegaskan sebagai masalah yang kita hadapi bersama di tengah derasnya arus informasi dari Internet.

Konsep itu dibantah di dalam buku The Information Diet ini. Kenapa? Karena penggunaan kata "overload" itu tidak sejalan dengan kata "konsumsi". Di dalam kata "konsumsi" itu ada peran aktif dari subjek. Itu artinya saat kita mengkonsumsi informasi, kita sedang mengakses informasi itu secara sadar. Sementara "overload" sendiri mengimplikasikan bahwa subjek itu pasif. Dengan adanya information overload itu ada kesan bahwa kita dijejali informasi yang sangat banyak tanpa bisa memilih secara sadar.

Dengan konsep yang sederhana tersebut, terlihat jelas bahwa masalahnya bukan pada information overload. Masalah yang kita hadapi saat ini adalah information overconsumption. Kita yang memilih secara sadar untuk mengakses informasi yang sangat banyak itu. Kita yang memilih untuk membaca berita di situs-situs berita. Kita yang memilih untuk terus mengikuti perkembangan di berbagai jejaring sosial dan blog langganan kita. Dan semua pilihan itu pada dasarnya kita lakukan secara sadar.

Memang benar bahwa ada faktor eksternal yang mempengaruhi pola konsumsi informasi kita. Saat berbagai situs berita berlomba untuk memberikan sebanyak mungkin informasi kepada kita, saat banyak orang berlomba membuat blog yang di-update sesering mungkin, saat berbagai situs bermunculan untuk memberikan informasi yang menarik, saat itulah pola konsumsi informasi kita mulai terganggu. Walau bagaimana pun, informasi itu dibuat semenarik dan sesering mungkin untuk memancing kita mengakses situs berita, jejaring sosial, blog, atau situs lainnya sesering mungkin.

Akan tetapi, bila kita kembali kepada konsep information overconsumption, faktor eksternal itu seharusnya tetap dapat kita kendalikan. Sebanyak apa pun informasi yang muncul di layar monitor kita, kita punya kuasa penuh untuk memilih bagian mana yang kita baca (akses) dan bagian mana yang tidak. Kita pun punya kuasa penuh untuk menentukan sumber informasi mana yang kita akses dan yang tidak kita akses. Kita bahkan punya kuasa penuh untuk menentukan apakah kita akan mengakses Internet atau tidak. Kata kuncinya ada pada kata "kuasa".

Kesimpulannya adalah banyak atau tidaknya informasi yang kita konsumsi itu bergantung pada kesadaran kita masing-masing. Apakah kita mau membatasi informasi yang kita akses atau tidak? Pilihan ini yang harus kita buat sebelum melanjutkan ke langkah-langkah kongkrit dalam diet informasi. Semua kembali kepada pilihan kita masing-masing.

--
Tulisan singkat tentang diet informasi dari penulis buku The Information Diet dapat diakses di sini:
http://lifehacker.com/5872436/how-to-start-your-information-diet

Kamis, 19 Januari 2012

Kenapa PNS Tidak Produktif?

Kenapa PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Indonesia ini secara mayoritas dinilai tidak produktif? Stigma malas senantiasa menempel pada pribadi para PNS. Sebegitu lekatnya stigma ini menempel sampai orang-orang pun bisa terheran-heran bila melihat PNS yang bekerja dengan rajin. Lebih heran lagi kalau PNS yang bekerja dengan rajin ini mengerjakan pekerjaannya tanpa embel-embel uang.

Salah satu tujuan Reformasi Birokrasi adalah melepas stigma malas tersebut. Tentu saja usaha untuk melepas stigma tersebut tidak berhenti di PR (Public Relation) yang baik, tapi juga memperbaiki masalah-masalah kinerja yang ada lewat langkah nyata. Garda terdepan Reformasi Birokrasi saat ini tentu saja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), tapi setiap instansi pemerintah saat ini pun turut aktif membenahi kinerja pegawai-pegawai yang mereka naungi.

Untuk bisa mengatasi masalah produktivitas PNS ini, kita perlu mencari tahu dulu penyebabnya. Dalam tulisan kali ini, saya ingin memaparkan alasan-alasan di balik rendahnya produktivitas PNS ini. Namun sebelumnya perlu saya tegaskan bahwa apa yang akan saya paparkan di bawah ini hanya mengacu kepada pengalaman dan pengamatan pribadi saya. Jadi, saya senantiasa membuka ruang untuk diskusi.

Pertama, stigma santai yang menempel di PNS. Saya yakin banyak orang yang menganggap bahwa PNS itu adalah pekerjaan santai. Dengan anggapan seperti ini, maka orang-orang yang berminat bekerja sebagai PNS pun berharap dapat bekerja dengan santai. Bila pola pemikiran seperti ini terus hidup (dan berkembang), orang-orang yang bekerja sebagai PNS itu akan memiliki rasa enggan dibuat sibuk oleh pekerjaan. Akibatnya mayoritas PNS tetap saja orang-orang yang malas bekerja dan semakin memupuk stigma santai ini.

Kedua, jumlah pegawai yang terlalu banyak. Jumlah pegawai yang terlalu banyak sudah pasti mempengaruhi produktivitas pegawai secara signifikan. Bayangkan pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan oleh 1 orang justru dikerjakan oleh 4 orang. Andaikan ada 200 pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh 1 orang saja, pembagian di atas akan membuat beban kerja masing-masing orang menjadi 50 pekerjaan saja. Pekerjaan memang menjadi lebih ringan, tapi produktivitas pegawai menjadi (terlihat) lebih rendah.

Ketiga, jumlah pekerjaan yang terlalu sedikit. Kebalikan dari alasan kedua di atas, jumlah pekerjaan yang dibebankan pada 1 orang bisa saja terlalu sedikit. Kondisi ini mungkin saja terjadi antara lain karena struktur organisasi yang terlalu gemuk sehingga masing-masing unit di bawah sebuah instansi memiliki tanggung jawab yang lebih rendah dari kapasitasnya. Bila tanggung jawab masing-masing unit saja lebih rendah dari kapasitasnya, tentu saja beban kerja pegawai di dalam unit tersebut pun lebih rendah dari kapasitas pegawai tersebut.

Keempat, tuntutan pekerjaan yang longgar. Bagian ini serupa tapi tak sama dengan alasan ketiga di atas. Longgarnya tuntutan pekerjaan di sini tidak ada hubungannya dengan kuantitas pekerjaan, tapi lebih erat kaitannya dengan pengawasan dari atasan. Rendahnya pengawasan dari atasan mengakibatkan tidak adanya tekanan yang memadai untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Akibatnya para bawahan dapat seenaknya menentukan deadline mereka sendiri. Dalam kondisi seperti ini, para PNS akan bekerja sesuai irama mereka sendiri tanpa ada faktor "atasan" untuk memacu mereka bekerja.

Kelima, eksploitasi pegawai yang rajin. Penyebabnya adalah sulitnya memberikan sanksi (hukuman) kepada pegawai yang tidak produktif sehingga para atasan memiliki kecenderungan untuk menyerahkan pekerjaan kepada bawahan yang rajin. Sayangnya kecenderungan seperti ini mungkin saja tidak mengenal batas. Para atasan ini terus saja menambah beban pekerjaan untuk pegawai yang rajin. Pada akhirnya yang rajin tetap (terpaksa) rajin dan yang malas tetap dengan urusan mereka sendiri; tanpa peduli.

Keenam, pekerjaan yang tidak sesuai kompetensi atau minat. Kondisi seperti ini sangat mungkin terjadi di lingkungan PNS. Saya tidak akan menggali lebih jauh mengenai penyebabnya. Satu hal yang pasti, pegawai yang tidak memiliki kompetensi di bidang pekerjaannya akan menjadi pegawai yang produktif. Produktivitas itu akan semakin menurun bila pegawai yang bersangkutan pun tidak memiliki minat yang cukup di bidang pekerjaannya.

Daftarnya pun tidak berhenti di angka 6. Saya yakin masih ada alasan-alasan lain yang tidak berhasil saya tangkap lewat pengalaman dan pengamatan saya pribadi. Namun perlu saya tegaskan bahwa paparan di atas sengaja saya batasi pada alasan-alasan yang terkait dengan budaya dan kepribadian para PNS itu sendiri. Saya sengaja tidak membahas masalah gaji, remunerasi, atau hal-hal teknis lainnya yang juga memiliki pengaruh terhadap produktivitas PNS.

Tujuan saya berbagi masalah-masalah yang terkait kinerja PNS ini, termasuk lewat tulisan Meningkatkan Kinerja PNS, sebenarnya untuk menyampaikan bahwa masalah kemalasan PNS itu tidak sederhana. Produktivitas ini bukan sekedar masalah mental (karakter) PNS yang bersangkutan. Pada kenyataannya masih banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan; masih banyak masalah lain yang harus diselesaikan. Penyelesaiannya pun tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, kecuali tangan yang dimaksud ini dapat membentang dari Sabang sampai Merauke.