Akhirnya kembali ke coffee break. Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis tentang sesuatu yang santai. Kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah bentuk apresiasi yang saya dapatkan belum lama ini.
Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai terbaik tingkat eselon II di tempat saya bekerja. Jarang sekali saya mendengar ada bentuk apresiasi semacam ini di lingkungan instansi pemerintahan. Mungkin saja program seperti ini baru digelar di tempat saya bekerja. Satu hal yang pasti, terpilih sebagai pegawai terbaik di tingkat eselon II adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya.
Enough about me.
Terkait apresiasi itu sendiri, saya teringat karakter Naruto yang di awal ceritanya itu hidup demi mendapat apresiasi. Naruto ingin sekali menjadi seorang ninja yang menonjol dan diakui kehebatannya oleh orang-orang di sekitarnya. Dia akan melakukan banyak hal (yang mayoritas tidak baik) demi mendapatkan perhatian banyak orang. Fortunately, he found such appreciation.
Enough about Naruto.
Seperti halnya Naruto, kita semua pun butuh apresiasi pada pekerjaan kita. Apresiasi yang saya maksud tentunya tidak sama persis seperti yang Naruto butuhkan. Ada banyak faktor yang menentukan seberapa butuhnya kita terhadap apresiasi. Pada intinya, menurut saya, bila kondisi eksternal membuat kita merasa tidak dihargai, maka semakin besar keinginan kita untuk diakui dan dihargai oleh orang lain.
Dalam dunia kerja pun sama. Kita butuh apresiasi. Kita butuh penghargaan terhadap pekerjaan yang sudah kita lakukan. Kita butuh penghargaan terhadap pencapaian-pencapaian kita. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk menjaga agar kita tetap memiliki motivasi untuk terus berkreasi. Hal ini saya rasakan sendiri saat ditetapkan sebagai pegawai terbaik tingkat eselon II itu.
Ibarat Naruto... Lupakan Naruto. Saya sudah lama tidak mengikuti ceritanya.
Ibarat mendapatkan tepukan di bahu dari atasan, penghargaan pegawai terbaik itu menjadi dorongan tersendiri bagi diri saya. Paling tidak saya mendapatkan bukti bahwa 2 (dua) tahun lebih bekerja sebaik mungkin tidak serta-merta menjadi sia-sia. Dan bukti ini sepertinya akan membekas cukup lama untuk mengingatkan saya agar terus bekerja dengan baik. Selama apa? Minimal selama saya masih diingatkan untuk mentraktir rekan-rekan kerja saya dalam rangka "syukuran".
Kemudian...
Demikian. Jangan sampai coffee break ini berubah menjadi tulisan yang terlalu serius. Pada intinya, saya hanya ingin berbagi kebahagiaan tentang sebuah apresiasi istimewa yang baru saja saya dapatkan. Harapan saya orang-orang yang sudah banyak berkontribusi di tempat kerja masing-masing pun mendapatkan apresiasi yang sama dengan saya. Aamiin.
Rabu, 25 Juli 2012
Selasa, 12 Juni 2012
Diet Informasi, Siapa yang Peduli?
Setelah 124 halaman buku The Information Diet yang ditulis oleh Clay A. Johnson dan sedikit browsing tentang diet informasi, saya pun menyadari bahwa diet informasi, sebagaimana diet-diet yang lain, juga membutuhkan komunitas. Sebuah komunitas yang sengaja dibentuk dalam rangka diet informasi seperti situs www.informationdiet.com. Sebuah komunitas untuk bertukar tips, pendapat, dan berbagai pemikiran yang dapat membantu mencapai keberhasilan para anggota komunitas dalam diet mereka masing-masing. Dengan adanya komunitas seperti ini, setiap orang yang terlibat dapat saling mengisi dan menguatkan agar tetap bertahan untuk tidak terbawa gencarnya arus informasi yang tersedia di sekitar kita.
Saya pun mencoba googling dengan kata kunci "diet informasi", baik dengan tanda kutip maupun tanpa tanda kutip. Ternyata halaman pertama hasil pencarian dari Google tidak berhasil menemukan situs yang membahas tentang diet informasi ini. Itu pun saya sudah mencoba mencari lewat Google Indonesia (google.co.id). Entah memang tidak ada yang terpikir akan konsep diet informasi ini atau memang tidak ada yang berminat untuk membahas tentang diet informasi; yang jelas pencarian dengan kata kunci "diet informasi" ini justru menampilkan situs-situs yang membahas tentang "informasi diet"; diet makanan tentunya.
Memangnya diet informasi ini seberapa penting? Bagi saya, diet informasi itu sepenting mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer. Mulai dari situs jejaring sosial sampai berbagai situs berita sudah berhasil memancing saya untuk terus memantau mereka sampai saya sendiri merasa konsentrasi saya saat bekerja menjadi jauh berkurang. Rendahnya konsentrasi ini jelas mempengaruhi efisiensi dan efektivitas saya dalam bekerja.
membiarkan diri saya "kecolongan", pembatasan waktu ini paling tidak membantu pikiran saya untuk lebih fokus.
Pembatasan waktu di atas tentu saja fleksibel. Saya yakin pembatasan waktu yang terlalu kaku justru akan menyulitkan diri saya sendiri. Inti dari langkah di atas adalah bagaimana bisa tetap fokus pada satu hal saja. Yang penting bagi saya adalah bagaimana memikirkan setiap hal satu per satu; tidak bersamaan. Bila tiba waktunya untuk bekerja, saya ucapkan selamat tinggal kepada random browsing di Internet. Bila tiba waktunya untuk random browsing, saya tutup semua hal yang terkait dengan pekerjaan.
Peningkatan attention span di atas tidak hanya berdampak positif bagi pekerjaan saya saja. Dampak positif yang sama juga saya rasakan di tengah-tengah keluarga saya. Dengan membiasakan diri untuk tidak terlalu sering mengakses situs jejaring sosial, situs berita, dan Internet pada umumnya, saya pun membuka potensi meningkatkan quality time bersama istri dan anak saya. Dapat dikatakan bahwa saya berhasil menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat karena perhatian yang saya berikan kepada istri dan anak-anak pun meningkat.
Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu mengenai komunitas yang membahas diet informasi ini. Diet informasi ini, seperti halnya diet makanan, butuh penguat, yaitu sebuah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan untuk menyaring informasi trivial dari sekitarnya dan lebih fokus pada informasi yang faktual dan bermanfaat. Dengan begitu, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap anggota komunitas dapat saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.
Sebenarnya saya yakin ada banyak orang yang peduli dengan kuantitas dan kualitas informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Bahkan tidak sedikit orang-orang di dekat saya yang seperti ini. Orang-orang ini memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus urusannya sendiri ketimbang menghabiskan waktu menelusuri Internet pada umumnya atau timeline jejaring sosial pada khususnya. Produktif atau tidaknya orang-orang seperti ini tentu saja lain soal. Semua tergantung pada urusan yang diurus oleh masing-masing individu.
Orang-orang yang saya maksud di atas itu sudah melakukan langkah-langkah kongkrit untuk mencapai hal tersebut. Ada yang sudah membatasi akses ke situs jejaring sosial, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial mana pun. Ada yang membatasi waktu mengakses situs berita, ada yang mengatur perilaku mengakses forum-forum online, dan berbagai cara lain. Sayangnya masing-masing orang masih memilih untuk melakukannya secara pribadi.
Terlepas dari itu, perbaikan memang perlu dimulai dari diri sendiri. Ada komunitas ataupun tidak, saya tetap melangkah maju untuk mengelola kuantitas dan kualitas informasi yang saya konsumsi. Dengan berbagai dampak positif yang sudah saya paparkan di atas (dan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini), saya menganggap diet informasi ini sebagai sesuatu yang penting. Sudah waktunya bagi saya untuk lebih peduli dengan arus informasi di sekitar saya. Bagaimana dengan Anda?
--
Tulisan terkait: Timeline Management http://alfanaini.blogspot.com/2012/05/timeline-management.html
Saya pun mencoba googling dengan kata kunci "diet informasi", baik dengan tanda kutip maupun tanpa tanda kutip. Ternyata halaman pertama hasil pencarian dari Google tidak berhasil menemukan situs yang membahas tentang diet informasi ini. Itu pun saya sudah mencoba mencari lewat Google Indonesia (google.co.id). Entah memang tidak ada yang terpikir akan konsep diet informasi ini atau memang tidak ada yang berminat untuk membahas tentang diet informasi; yang jelas pencarian dengan kata kunci "diet informasi" ini justru menampilkan situs-situs yang membahas tentang "informasi diet"; diet makanan tentunya.
Memangnya diet informasi ini seberapa penting? Bagi saya, diet informasi itu sepenting mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer. Mulai dari situs jejaring sosial sampai berbagai situs berita sudah berhasil memancing saya untuk terus memantau mereka sampai saya sendiri merasa konsentrasi saya saat bekerja menjadi jauh berkurang. Rendahnya konsentrasi ini jelas mempengaruhi efisiensi dan efektivitas saya dalam bekerja.
... mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer.Langkah pertama diet informasi saya tentu saja fokus pada hal di atas. Saya mulai membatasi waktu saya untuk mengakses situs jejaring sosial dan situs berita. Bila waktu saya sudah habis, saya tutup semua browser windows (atau tabs) yang tidak terkait dengan pekerjaan. Bila waktunya bekerja, saya fokus untuk bekerja. Bila waktunya mencari tahu kabar sekitar, saya pun fokus di situ. Itu artinya pikiran saya tidak terus-menerus lompat dari satu hal ke hal yang lain.Walaupun sesekali waktu saya masih
Pembatasan waktu di atas tentu saja fleksibel. Saya yakin pembatasan waktu yang terlalu kaku justru akan menyulitkan diri saya sendiri. Inti dari langkah di atas adalah bagaimana bisa tetap fokus pada satu hal saja. Yang penting bagi saya adalah bagaimana memikirkan setiap hal satu per satu; tidak bersamaan. Bila tiba waktunya untuk bekerja, saya ucapkan selamat tinggal kepada random browsing di Internet. Bila tiba waktunya untuk random browsing, saya tutup semua hal yang terkait dengan pekerjaan.
Peningkatan attention span di atas tidak hanya berdampak positif bagi pekerjaan saya saja. Dampak positif yang sama juga saya rasakan di tengah-tengah keluarga saya. Dengan membiasakan diri untuk tidak terlalu sering mengakses situs jejaring sosial, situs berita, dan Internet pada umumnya, saya pun membuka potensi meningkatkan quality time bersama istri dan anak saya. Dapat dikatakan bahwa saya berhasil menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat karena perhatian yang saya berikan kepada istri dan anak-anak pun meningkat.
... menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat...It's a work in progress, of course. Saya pernah secara eksplisit menegaskan kepada diri saya sendiri untuk menjauh dari situs jejaring sosial, tapi pada kenyataannya langkah saya tidak konsisten. Semangat saya untuk menjaga diri dari konsumsi informasi yang membanjiri hidup saya itu sering mengendur. Saya pun kembali terbawa derasnya arus informasi yang masuk ke dalam otak saya. Alhamdulillah saya masih menemukan motivasi yang baru untuk memulai kembali.
Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu mengenai komunitas yang membahas diet informasi ini. Diet informasi ini, seperti halnya diet makanan, butuh penguat, yaitu sebuah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan untuk menyaring informasi trivial dari sekitarnya dan lebih fokus pada informasi yang faktual dan bermanfaat. Dengan begitu, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap anggota komunitas dapat saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.
Sebenarnya saya yakin ada banyak orang yang peduli dengan kuantitas dan kualitas informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Bahkan tidak sedikit orang-orang di dekat saya yang seperti ini. Orang-orang ini memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus urusannya sendiri ketimbang menghabiskan waktu menelusuri Internet pada umumnya atau timeline jejaring sosial pada khususnya. Produktif atau tidaknya orang-orang seperti ini tentu saja lain soal. Semua tergantung pada urusan yang diurus oleh masing-masing individu.
Orang-orang yang saya maksud di atas itu sudah melakukan langkah-langkah kongkrit untuk mencapai hal tersebut. Ada yang sudah membatasi akses ke situs jejaring sosial, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial mana pun. Ada yang membatasi waktu mengakses situs berita, ada yang mengatur perilaku mengakses forum-forum online, dan berbagai cara lain. Sayangnya masing-masing orang masih memilih untuk melakukannya secara pribadi.
Terlepas dari itu, perbaikan memang perlu dimulai dari diri sendiri. Ada komunitas ataupun tidak, saya tetap melangkah maju untuk mengelola kuantitas dan kualitas informasi yang saya konsumsi. Dengan berbagai dampak positif yang sudah saya paparkan di atas (dan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini), saya menganggap diet informasi ini sebagai sesuatu yang penting. Sudah waktunya bagi saya untuk lebih peduli dengan arus informasi di sekitar saya. Bagaimana dengan Anda?
--
Tulisan terkait: Timeline Management http://alfanaini.blogspot.com/2012/05/timeline-management.html
Senin, 14 Mei 2012
Timeline Management
Kembali lagi dengan tulisan seputar Diet Informasi. Kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana mengelola arus informasi dari timeline di situs-situs jejaring sosial langganan kita. Apa yang akan saya sampaikan di sini akan bersifat subjektif karena mayoritas isinya akan berkaca dari pengalaman saya sendiri. Semoga saja apa yang saya sampaikan masih cukup relevan untuk dimanfaatkan para pembaca.
Saya mulai.
Buat saya pribadi, di antara semua sumber informasi yang tersedia di sekitar saya, sumber informasi yang paling "mengganggu" adalah jejaring sosial. Dan di antara 3 (tiga) jejaring sosial yang saya ikuti, yaitu Facebook, Twitter, dan Google+, jejaring sosial yang paling "mengganggu" adalah Twitter. Dalam hidup saya, Twitter itu yang paling mampu menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan situs jejaring sosial yang lain.
Terlepas dari itu, masing-masing jejaring sosial yang saya sebutkan di atas memiliki fitur-fitur untuk mengelola arus informasi yang memenuhi timeline penggunanya. Dari masing-masing fitur inilah kita dapat menemukan pola timeline management yang sesuai dengan perilaku sosial dan kebutuhan kita terhadap informasi. Tergantung perilaku dan kebutuhan kita, fitur-fitur tersebut mungkin saja akan sangat berguna untuk membantu kita mengelola informasi yang masuk ke dalam otak kita.
Google+
Saya mulai dari Google+. Mengapa Google+? Bukan karena kecenderungan saya terhadap Google, tapi karena menurut saya Google+ ini seolah-olah dibuat dengan "pengelolaan arus informasi" sebagai dasarnya. Sistem "pertemanan" di Google+ ini bergantung pada Circle. Setiap kali kita ingin menambah teman, kita diharuskan memasukannya minimal ke dalam 1 (satu) circle.
Efeknya circle ini terhadap arus informasi di mana? Pertama, kita dapat memilih circle mana yang ingin kita akses. Itu artinya kita tidak perlu mengakses Stream (timeline di Google+) yang berisi update dari seluruh circle yang kita miliki. Kalaupun kita lebih nyaman mengakses Stream, misalnya karena tidak mau repot buka circle satu per satu, Google+ pun menyediakan fitur untuk membatasi informasi yang masuk ke dalam Stream dari setiap circle.
Misalkan kita memiliki circle "Menarik", "Teman", "Rekan Kerja", dan "Gak Jelas Juntrungannya". Kita bisa saja mengakses circle "Menarik" yang berisi informasi yang memang menarik untuk kita ikuti tanpa harus membuka Stream. Seandainya kita lebih nyaman mengakses informasi lewat Stream, kita bisa atur supaya "Gak Jelas Juntrungannya" itu tidak muncul sama sekali di Stream kita. Praktis, bukan?
Facebook
Berikutnya adalah Facebook. Facebook ini pernah menjadi jejaring sosial yang paling "ramai" dalam hidup saya. Kenapa "ramai"? Karena fitur untuk mengelola arus informasi di Facebook ini sangat terbatas. Seiring dengan munculnya fitur List dan Subscriptions, timeline management di Facebook menjadi lebih mudah. Dalam konteks pengelompokan informasi, fungsi list di Facebok mirip dengan fungsi circle di Google+.
Sayangnya list di Facebook ini tidak menyediakan fitur untuk membatasi agar informasinya tidak masuk ke dalam News Feed (timeline di Facebook). Untuk fitur yang satu ini, circle di Google+ jelas lebih to the point. Kalaupun kita ingin orang-orang tertentu tidak masuk ke dalam News Feed kita, kita harus unsubscribe satu per satu dari akun masing-masing orang.
Twitter
Yang terakhir adalah Twitter. Twitter ini sepertinya memang jejaring sosial yang dirancang untuk membanjiri hidup kita dengan informasi. Hubungan "pertemanan" di Twitter didasari oleh saling follow. Jadi saat kita berteman dengan orang lain di Twitter, kita sudah secara otomatis membuka pintu untuk masuknya arus informasi yang lebih banyak lagi.
Konsep "pertemanan" Twitter di atas sangat berbeda dengan Google+ dan Facebook. Di Google+, kita "berteman" dengan memasukan seseorang ke dalam salah satu circle kita. Akan tetapi, kita bisa saja memasukan orang itu ke dalam circle yang isinya tidak masuk ke dalam Stream kita. Di Facebook, kita "berteman" dengan menjadi Friends. Dengan fitur Subscriptions, kita bisa saja unsubscribe dari teman kita ini sehingga informasinya tidak masuk ke dalam News Feed kita.
Untungnya Twitter pun menyediakan List. Dengan adanya list di Twitter ini, kita bisa mengikuti informasi sebuah akun Twitter lewat list tanpa harus follow akun tersebut. Itu artinya informasi dari akun tersebut dapat diakses lewat list terkait tanpa harus memenuhi timeline Twitter kita.
Penutup
Fitur-fitur yang saya paparkan di atas itu cukup membantu kita mengelola banyaknya informasi yang kita akses lewat timeline kita. Bila kita perluas pembahasan ini ke berbagai third party application, tentu akan ada lebih banyak fitur lain yang jauh lebih baik. Akan tetapi, hal penting yang perlu kita ingat adalah tools tidak akan berguna tanpa determinasi yang kuat dari kita sebagai pengguna tools. Secanggih apa pun fitur yang dapat membantu kita mengelola informasi di timeline, tidak satu pun akan berguna bila kita sendiri tidak punya keinginan untuk mengelola informasi itu.
Hal penting lain yang perlu kita ingat adalah dasar dari pengelolaan informasi ini bukan karena adanya information overload, tapi justru karena perilaku information overconsumption dari kita sendiri. Kita yang memutuskan untuk memasukan seseorang ke dalam circle, menjadi Friends dengan seseorang, atau follow seseorang. Jadi pada dasarnya kita sendiri yang memutuskan untuk membuka/menutup kran informasi di situs jejaring sosial langganan kita.
Hal pertama yang kita butuhkan adalah kesadaran, yaitu kesadaran bahwa kita sendiri yang membiarkan diri kita dibanjiri informasi. Kita harus berhenti menyalahkan banyaknya informasi yang beredar di Internet dan mulai membenahi perilaku kita dalam mengakses informasi di Internet. Bila kita mampu menanamkan kesadaran ini, mengelola informasi hanya semudah menekan tombol log out, mematikan smartphone, atau bahkan menghapus akun-akun yang mengganggu itu. Tidak perlu repot, bukan?
Saya mulai.
Buat saya pribadi, di antara semua sumber informasi yang tersedia di sekitar saya, sumber informasi yang paling "mengganggu" adalah jejaring sosial. Dan di antara 3 (tiga) jejaring sosial yang saya ikuti, yaitu Facebook, Twitter, dan Google+, jejaring sosial yang paling "mengganggu" adalah Twitter. Dalam hidup saya, Twitter itu yang paling mampu menyita waktu dan perhatian saya dibandingkan situs jejaring sosial yang lain.
Terlepas dari itu, masing-masing jejaring sosial yang saya sebutkan di atas memiliki fitur-fitur untuk mengelola arus informasi yang memenuhi timeline penggunanya. Dari masing-masing fitur inilah kita dapat menemukan pola timeline management yang sesuai dengan perilaku sosial dan kebutuhan kita terhadap informasi. Tergantung perilaku dan kebutuhan kita, fitur-fitur tersebut mungkin saja akan sangat berguna untuk membantu kita mengelola informasi yang masuk ke dalam otak kita.
![]() |
| technorati.com |
Saya mulai dari Google+. Mengapa Google+? Bukan karena kecenderungan saya terhadap Google, tapi karena menurut saya Google+ ini seolah-olah dibuat dengan "pengelolaan arus informasi" sebagai dasarnya. Sistem "pertemanan" di Google+ ini bergantung pada Circle. Setiap kali kita ingin menambah teman, kita diharuskan memasukannya minimal ke dalam 1 (satu) circle.
Efeknya circle ini terhadap arus informasi di mana? Pertama, kita dapat memilih circle mana yang ingin kita akses. Itu artinya kita tidak perlu mengakses Stream (timeline di Google+) yang berisi update dari seluruh circle yang kita miliki. Kalaupun kita lebih nyaman mengakses Stream, misalnya karena tidak mau repot buka circle satu per satu, Google+ pun menyediakan fitur untuk membatasi informasi yang masuk ke dalam Stream dari setiap circle.
Misalkan kita memiliki circle "Menarik", "Teman", "Rekan Kerja", dan "Gak Jelas Juntrungannya". Kita bisa saja mengakses circle "Menarik" yang berisi informasi yang memang menarik untuk kita ikuti tanpa harus membuka Stream. Seandainya kita lebih nyaman mengakses informasi lewat Stream, kita bisa atur supaya "Gak Jelas Juntrungannya" itu tidak muncul sama sekali di Stream kita. Praktis, bukan?
![]() |
| blur-marketing.com |
Berikutnya adalah Facebook. Facebook ini pernah menjadi jejaring sosial yang paling "ramai" dalam hidup saya. Kenapa "ramai"? Karena fitur untuk mengelola arus informasi di Facebook ini sangat terbatas. Seiring dengan munculnya fitur List dan Subscriptions, timeline management di Facebook menjadi lebih mudah. Dalam konteks pengelompokan informasi, fungsi list di Facebok mirip dengan fungsi circle di Google+.
Sayangnya list di Facebook ini tidak menyediakan fitur untuk membatasi agar informasinya tidak masuk ke dalam News Feed (timeline di Facebook). Untuk fitur yang satu ini, circle di Google+ jelas lebih to the point. Kalaupun kita ingin orang-orang tertentu tidak masuk ke dalam News Feed kita, kita harus unsubscribe satu per satu dari akun masing-masing orang.
![]() |
| blog.backupify.com |
Yang terakhir adalah Twitter. Twitter ini sepertinya memang jejaring sosial yang dirancang untuk membanjiri hidup kita dengan informasi. Hubungan "pertemanan" di Twitter didasari oleh saling follow. Jadi saat kita berteman dengan orang lain di Twitter, kita sudah secara otomatis membuka pintu untuk masuknya arus informasi yang lebih banyak lagi.
Konsep "pertemanan" Twitter di atas sangat berbeda dengan Google+ dan Facebook. Di Google+, kita "berteman" dengan memasukan seseorang ke dalam salah satu circle kita. Akan tetapi, kita bisa saja memasukan orang itu ke dalam circle yang isinya tidak masuk ke dalam Stream kita. Di Facebook, kita "berteman" dengan menjadi Friends. Dengan fitur Subscriptions, kita bisa saja unsubscribe dari teman kita ini sehingga informasinya tidak masuk ke dalam News Feed kita.
Untungnya Twitter pun menyediakan List. Dengan adanya list di Twitter ini, kita bisa mengikuti informasi sebuah akun Twitter lewat list tanpa harus follow akun tersebut. Itu artinya informasi dari akun tersebut dapat diakses lewat list terkait tanpa harus memenuhi timeline Twitter kita.
Penutup
Fitur-fitur yang saya paparkan di atas itu cukup membantu kita mengelola banyaknya informasi yang kita akses lewat timeline kita. Bila kita perluas pembahasan ini ke berbagai third party application, tentu akan ada lebih banyak fitur lain yang jauh lebih baik. Akan tetapi, hal penting yang perlu kita ingat adalah tools tidak akan berguna tanpa determinasi yang kuat dari kita sebagai pengguna tools. Secanggih apa pun fitur yang dapat membantu kita mengelola informasi di timeline, tidak satu pun akan berguna bila kita sendiri tidak punya keinginan untuk mengelola informasi itu.
Hal penting lain yang perlu kita ingat adalah dasar dari pengelolaan informasi ini bukan karena adanya information overload, tapi justru karena perilaku information overconsumption dari kita sendiri. Kita yang memutuskan untuk memasukan seseorang ke dalam circle, menjadi Friends dengan seseorang, atau follow seseorang. Jadi pada dasarnya kita sendiri yang memutuskan untuk membuka/menutup kran informasi di situs jejaring sosial langganan kita.
Hal pertama yang kita butuhkan adalah kesadaran, yaitu kesadaran bahwa kita sendiri yang membiarkan diri kita dibanjiri informasi. Kita harus berhenti menyalahkan banyaknya informasi yang beredar di Internet dan mulai membenahi perilaku kita dalam mengakses informasi di Internet. Bila kita mampu menanamkan kesadaran ini, mengelola informasi hanya semudah menekan tombol log out, mematikan smartphone, atau bahkan menghapus akun-akun yang mengganggu itu. Tidak perlu repot, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)




