Senin, 10 Desember 2012

Produktif Tanpa Produk Bajakan

Dan blog ini pun akhirnya di-update kembali.

Saya pernah mempublikasikan beberapa tulisan tentang open source di blog ini. Tulisan-tulisan tersebut merefleksikan dukungan saya terhadap produk-produk open source. Sebagai seorang PNS, saya pun berharap instansi pemerintah di Indonesia memperluas penggunaan produk-produk open source dalam lingkungan kerja mereka.

Alasan utama saya mendukung dan menggunakan produk-produk open source ini adalah untuk mengurangi penggunaan produk-produk bajakan dalam hidup saya. Dengan menggunakan aplikasi open source, dan berbagai alternatif freeware lain, porsi aplikasi bajakan sudah berkurang secara signifikan dalam hidup saya.

Lalu bagaimana kita bisa menjadi produktif tanpa produk bajakan? Sederhana: kita harus memiliki determinasi yang kuat untuk tetap konsisten mencari alternatif di luar produk-produk bajakan. Saya melihat sendiri bahwa banyak orang beralih ke produk bajakan karena mereka tidak mau (bukan tidak bisa) untuk keluar dari ketergantungan mereka terhadap produk bajakan itu. When there is no will, there is no way.

Mengacu kepada pengalaman saya sendiri, berikut ini adalah kompilasi freeware dan open source software yang saya gunakan untuk tetap produktif:
  1. Apache-PHP-MySQL dan Notepad++ untuk pengembangan aplikasi berbasis web.
  2. 7-zip untuk kompresi data dan kebutuhan backup data.
  3. LibreOffice untuk mengolah dokumen dan spreadsheet.
  4. AVG Antivirus Free, dilengkapi dengan NoAutorun dan kehati-hatian saat browsing di Internet, untuk menolak bala virus.
Yang saya sebutkan di atas mengacu kepada pengalaman saya pribadi. Walaupun begitu, saya sadar bahwa alternatif pilihan untuk menggantikan pilihan 1-4 di atas pun masih banyak. Sayangnya saya tidak menyempatkan diri untuk mencoba alternatif-alternatif lain satu per satu. Intinya memang bukan pada alternatif freeware atau open source software yang saya pakai, tapi lebih pada kenyataan bahwa hidup bebas dari produk-produk bajakan itu sangat memungkinkan.

Lalu bagaimana mana dengan pilihan operating system yang saya gunakan? Saya memilih Windows; yang asli tentunya.

Update [11 Desember 2012]:
Semua aplikasi yang saya sebutkan di atas, saya gunakan dengan Windows XP.

Rabu, 25 Juli 2012

Apresiasi

Akhirnya kembali ke coffee break. Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis tentang sesuatu yang santai. Kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah bentuk apresiasi yang saya dapatkan belum lama ini.

Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai terbaik tingkat eselon II di tempat saya bekerja. Jarang sekali saya mendengar ada bentuk apresiasi semacam ini di lingkungan instansi pemerintahan. Mungkin saja program seperti ini baru digelar di tempat saya bekerja. Satu hal yang pasti, terpilih sebagai pegawai terbaik di tingkat eselon II adalah sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya.

Enough about me.

Terkait apresiasi itu sendiri, saya teringat karakter Naruto yang di awal ceritanya itu hidup demi mendapat apresiasi. Naruto ingin sekali menjadi seorang ninja yang menonjol dan diakui kehebatannya oleh orang-orang di sekitarnya. Dia akan melakukan banyak hal (yang mayoritas tidak baik) demi mendapatkan perhatian banyak orang. Fortunately, he found such appreciation.

Enough about Naruto.

Seperti halnya Naruto, kita semua pun butuh apresiasi pada pekerjaan kita. Apresiasi yang saya maksud tentunya tidak sama persis seperti yang Naruto butuhkan. Ada banyak faktor yang menentukan seberapa butuhnya kita terhadap apresiasi. Pada intinya, menurut saya, bila kondisi eksternal membuat kita merasa tidak dihargai, maka semakin besar keinginan kita untuk diakui dan dihargai oleh orang lain.

Dalam dunia kerja pun sama. Kita butuh apresiasi. Kita butuh penghargaan terhadap pekerjaan yang sudah kita lakukan. Kita butuh penghargaan terhadap pencapaian-pencapaian kita. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk menjaga agar kita tetap memiliki motivasi untuk terus berkreasi. Hal ini saya rasakan sendiri saat ditetapkan sebagai pegawai terbaik tingkat eselon II itu.

Ibarat Naruto... Lupakan Naruto. Saya sudah lama tidak mengikuti ceritanya.

Ibarat mendapatkan tepukan di bahu dari atasan, penghargaan pegawai terbaik itu menjadi dorongan tersendiri bagi diri saya. Paling tidak saya mendapatkan bukti bahwa 2 (dua) tahun lebih bekerja sebaik mungkin tidak serta-merta menjadi sia-sia. Dan bukti ini sepertinya akan membekas cukup lama untuk mengingatkan saya agar terus bekerja dengan baik. Selama apa? Minimal selama saya masih diingatkan untuk mentraktir rekan-rekan kerja saya dalam rangka "syukuran".

Kemudian...

Demikian. Jangan sampai coffee break ini berubah menjadi tulisan yang terlalu serius. Pada intinya, saya hanya ingin berbagi kebahagiaan tentang sebuah apresiasi istimewa yang baru saja saya dapatkan. Harapan saya orang-orang yang sudah banyak berkontribusi di tempat kerja masing-masing pun mendapatkan apresiasi yang sama dengan saya. Aamiin.

Selasa, 12 Juni 2012

Diet Informasi, Siapa yang Peduli?

Setelah 124 halaman buku The Information Diet yang ditulis oleh Clay A. Johnson dan sedikit browsing tentang diet informasi, saya pun menyadari bahwa diet informasi, sebagaimana diet-diet yang lain, juga membutuhkan komunitas. Sebuah komunitas yang sengaja dibentuk dalam rangka diet informasi seperti  situs www.informationdiet.com. Sebuah komunitas untuk bertukar tips, pendapat, dan berbagai pemikiran yang dapat membantu mencapai keberhasilan para anggota komunitas dalam diet mereka masing-masing. Dengan adanya komunitas seperti ini, setiap orang yang terlibat dapat saling mengisi dan menguatkan agar tetap bertahan untuk tidak terbawa gencarnya arus informasi yang tersedia di sekitar kita.

Saya pun mencoba googling dengan kata kunci "diet informasi", baik dengan tanda kutip maupun tanpa tanda kutip. Ternyata halaman pertama hasil pencarian dari Google tidak berhasil menemukan situs yang membahas tentang diet informasi ini. Itu pun saya sudah mencoba mencari lewat Google Indonesia (google.co.id). Entah memang tidak ada yang terpikir akan konsep diet informasi ini atau memang tidak ada yang berminat untuk membahas tentang diet informasi; yang jelas pencarian dengan kata kunci "diet informasi" ini justru menampilkan situs-situs yang membahas tentang "informasi diet"; diet makanan tentunya.

Memangnya diet informasi ini seberapa penting? Bagi saya, diet informasi itu sepenting mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer. Mulai dari situs jejaring sosial sampai berbagai situs berita sudah berhasil memancing saya untuk terus memantau mereka sampai saya sendiri merasa konsentrasi saya saat bekerja menjadi jauh berkurang. Rendahnya konsentrasi ini jelas mempengaruhi efisiensi dan efektivitas saya dalam bekerja.
... mengembalikan attention span saya yang sudah terlalu sering tercecer.
Langkah pertama diet informasi saya tentu saja fokus pada hal di atas. Saya mulai membatasi waktu saya untuk mengakses situs jejaring sosial dan situs berita. Bila waktu saya sudah habis, saya tutup semua browser windows (atau tabs) yang tidak terkait dengan pekerjaan. Bila waktunya bekerja, saya fokus untuk bekerja. Bila waktunya mencari tahu kabar sekitar, saya pun fokus di situ. Itu artinya pikiran saya tidak terus-menerus lompat dari satu hal ke hal yang lain.Walaupun sesekali waktu saya masih membiarkan diri saya "kecolongan", pembatasan waktu ini paling tidak membantu pikiran saya untuk lebih fokus.

Pembatasan waktu di atas tentu saja fleksibel. Saya yakin pembatasan waktu yang terlalu kaku justru akan menyulitkan diri saya sendiri. Inti dari langkah di atas adalah bagaimana bisa tetap fokus pada satu hal saja. Yang penting bagi saya adalah bagaimana memikirkan setiap hal satu per satu; tidak bersamaan. Bila tiba waktunya untuk bekerja, saya ucapkan selamat tinggal kepada random browsing di Internet. Bila tiba waktunya untuk random browsing, saya tutup semua hal yang terkait dengan pekerjaan.

Peningkatan attention span di atas tidak hanya berdampak positif bagi pekerjaan saya saja. Dampak positif yang sama juga saya rasakan di tengah-tengah keluarga saya. Dengan membiasakan diri untuk tidak terlalu sering mengakses situs jejaring sosial, situs berita, dan Internet pada umumnya, saya pun membuka potensi meningkatkan quality time bersama istri dan anak saya. Dapat dikatakan bahwa saya berhasil menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat karena perhatian yang saya berikan kepada istri dan anak-anak pun meningkat.
... menjauhkan yang jauh seraya mendekatkan yang dekat...
It's a work in progress, of course. Saya pernah secara eksplisit menegaskan kepada diri saya sendiri untuk menjauh dari situs jejaring sosial, tapi pada kenyataannya langkah saya tidak konsisten. Semangat saya untuk menjaga diri dari konsumsi informasi yang membanjiri hidup saya itu sering mengendur. Saya pun kembali terbawa derasnya arus informasi yang masuk ke dalam otak saya. Alhamdulillah saya masih menemukan motivasi yang baru untuk memulai kembali.

Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu mengenai komunitas yang membahas diet informasi ini. Diet informasi ini, seperti halnya diet makanan, butuh penguat, yaitu sebuah komunitas yang memiliki kesamaan tujuan untuk menyaring informasi trivial dari sekitarnya dan lebih fokus pada informasi yang faktual dan bermanfaat. Dengan begitu, seperti yang saya jelaskan di atas, setiap anggota komunitas dapat saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.

Sebenarnya saya yakin ada banyak orang yang peduli dengan kuantitas dan kualitas informasi yang masuk ke dalam otak mereka. Bahkan tidak sedikit orang-orang di dekat saya yang seperti ini. Orang-orang ini memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus urusannya sendiri ketimbang menghabiskan waktu menelusuri Internet pada umumnya atau timeline jejaring sosial pada khususnya. Produktif atau tidaknya orang-orang seperti ini tentu saja lain soal. Semua tergantung pada urusan yang diurus oleh masing-masing individu.

Orang-orang yang saya maksud di atas itu sudah melakukan langkah-langkah kongkrit untuk mencapai hal tersebut. Ada yang sudah membatasi akses ke situs jejaring sosial, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak bergabung dengan situs jejaring sosial mana pun. Ada yang membatasi waktu mengakses situs berita, ada yang mengatur perilaku mengakses forum-forum online, dan berbagai cara lain. Sayangnya masing-masing orang masih memilih untuk melakukannya secara pribadi.

Terlepas dari itu, perbaikan memang perlu dimulai dari diri sendiri. Ada komunitas ataupun tidak, saya tetap melangkah maju untuk mengelola kuantitas dan kualitas informasi yang saya konsumsi. Dengan berbagai dampak positif yang sudah saya paparkan di atas (dan dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini), saya menganggap diet informasi ini sebagai sesuatu yang penting. Sudah waktunya bagi saya untuk lebih peduli dengan arus informasi di sekitar saya. Bagaimana dengan Anda?

--
Tulisan terkait: Timeline Management http://alfanaini.blogspot.com/2012/05/timeline-management.html