Sambungan dari: http://alfanaini.blogspot.com/2011/09/over-expectationunder-utilization.html
Under Utilization
Under utilization terjadi saat hasil implementasi suatu teknologi itu tidak digunakan secara maksimal atau bahkan mendekati minimal. Contoh under utilization ini tidak sedikit dan meliputi banyak hal mulai dari hardware sampai software. Contohnya antara lain menggunakan komputer dengan spesifikasi terbaik di kelasnya hanya untuk menggunakan aplikasi Microsoft Office, menggunakan Microsoft Excel hanya untuk menggantikan fungsi kalkulator, atau menggunakan Microsoft Word seperti menggunakan mesin ketik biasa.
Penyebab terjadinya under utilization ini pada umumnya adalah kekurangan informasi atau lebih tepatnya kekurangan edukasi. Para pengguna umumnya tidak tahu cara menggunakan teknologi yang ada di hadapan mereka secara maksimal. Cara mengatasinya tentu saja dengan memberikan akses yang baik terhadap informasi terkait. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan referensi untuk dipelajari sendiri atau memberikan pelatihan yang relevan kepada para pengguna tersebut.
Masalahnya menjadi lebih rumit kalau penyebabnya bukan lagi karena tidak tahu, tapi lebih cenderung karena tidak mau tahu. Mungkin saja implementasi teknologi yang dilakukan itu terlalu sulit dimengerti, sehingga sarana edukasi yang diberikan pun tidak terlalu berarti. Daripada harus membiarkan pekerjaan menumpuk, para pengguna pun beralih ke cara yang lama. Akhirnya hasil implementasi TI yang terbaru tidak akan digunakan. Kalau pun digunakan, para pengguna itu kemungkinan akan menggunakan bagian-bagian tertentu saja.
Penyebab lain terjadinya under utilization adalah kekecewaan. Kalau kita bicara kekecewaan, maka under utilization ini dapat kita kaitkan dengan over expectation. Sebelumnya saya sudah menulis mengenai over expectation dengan sebuah contoh kasus, yaitu bagaimana pimpinan perusahaan Y memiliki harapan yang terlalu tinggi pada implementasi Gemilang yang ditawarkan perusahaan Z. Kekecewaan para pimpinan perusahaan Y ini kemungkinan besar akan menyebabkan under utilization pada hasil implementasi Gemilang. Alih-alih memberikan perintah untuk menggunakan Gemilang dengan optimal, pimpinan perusahaan Y justru beralih untuk mencari solusi lain untuk menggantikan Gemilang.
Kesimpulan
Dari paparan di atas, kita dapat simpulkan bahwa over expectation dan under utilization ini akan mengakibatkan hasil implementasi TI menjadi tidak optimal. Bahkan dapat kita katakan bahwa kedua masalah tersebut membuat hasil implementasi TI terlihat tidak efektif dan tidak efisien. Oleh karena itu, akan lebih baik bila masalah over expectation dan under utilization itu dicegah sejak dini.
Hal yang paling utama untuk diperhatikan dalam mengatasi kedua masalah tersebut adalah edukasi. Dengan pelatihan (pendidikan) yang memadai mengenai perkembangan TI (dan apa saja yang mampu dilakukan oleh TI), over expectation dapat ditekan seminimal mungkin. Akan lebih baik lagi kalau ketimpangan informasi saat merencanakan implementasi TI pun ikut dicegah.
Under utilization pun dicegah dengan edukasi yang memadai. Bila pengetahuan yang memadai, masalah "tidak tahu" akan lebih mudah ditekan. Hanya saja kita membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mengatasi masalah "tidak mau tahu". Hal ini disebabkan karena asalah "tidak mau tahu" ini butuh lebih dari sekedar tambahan pengetahuan, tapi juga tambahan motivasi (urgensi) untuk merubah kebiasaan.
Kamis, 22 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Over Expectation/Under Utilization
Dua masalah yang kerap dihadapi dalam implementasi TI (Teknologi Informasi) adalah over expectation dan under utilization. Over expectation adalah kondisi saat harapan yang muncul saat hendak mengimplementasikan TI itu jauh lebih tinggi dari hasil akhir implementasi yang dapat (memungkinkan) untuk dilakukan. Sementara under utilization adalah kondisi saat hasil akhir implementasi TI itu tidak dimanfaatkan (digunakan) secara maksimal. Kedua masalah ini dapat mengakibatkan implementasi TI tidak optimal atau bahkan gagal total.
Over Expectation
Penyebab munculnya over expectation yang sering saya temukan secara umum berputar pada ketimpangan informasi. Penyebab ketimpangan informasi ini antara lain karena pencarian informasi yang tidak berimbang, pengaruh marketing campaign yang dahsyat, atau kecenderungan terhadap produk dengan merk-merk tertentu. Ketimpangan informasi ini yang menyebabkan para pengguna (atau calon pengguna) memiliki harapan yang berlebihan pada TI. Saat implementasi TI selesai dilakukan, mereka pun kecewa karena hasil implementasi TI itu tidak sesuai dengan keinginan (dan juga kebutuhan) mereka.
Contohnya seperti ini. Misalkan tim marketing dari perusahaan Z mempresentasikan solusi TI kepada pimpinan perusahaan Y. Kita umpamakan solusi TI yang ditawarkan itu bernama Gemilang. Dalam presentasi itu tentu saja yang dikedepankan adalah kelebihan-kelebihan dari Gemilang. Yang diperlihatkan pada pimpinan perusahaan Y tentu saja hal-hal positif yang dapat diperoleh dengan mengimplementasikan Gemilang di perusahaan Y.
Dari presentasi di atas berlanjut dengan POC (Proof of Concept). Di sini, tim dari perusahaan Z akan datang kembali ke perusahaan Y untuk memperlihatkan simulasi teknis implementasi Gemilang. Dengan environment yang kondusif, simulasi teknis Gemilang ini berjalan lancar. Kita asumsikan saja pimpinan perusahaan Y benar-benar terkesan dengan simulasi teknis ini. Pada titik ini, kecenderungan pimpinan perusahaan Y untuk menggunakan Gemilang sudah semakin besar. Apalagi Gemilang ini merupakan produk yang dikembangkan oleh perusahaan A2Z (baca: A to Z, A sampai Z). Perusahaan Z hanya bertindak sebagai reseller. Berhubung perusahaan Y menggunakan banyak produk perusahaan A2Z, maka tingkat kepercayaan perusahaan Y kepada Gemilang pun meningkat.
Kecenderungan perusahaan Y kepada Gemilang akan semakin bertambah besar bila tim dari perusahaan Y pun tidak dapat mengimbangi gelombang informasi di atas dengan informasi yang lebih objektif dan berimbang. Kalau tim dari perusahaan Y sendiri tidak dapat menilai Gemilang secara objektif, maka ketimpangan informasi yang sudah terjadi pun akan bertambah jomplang. Kita asumsikan contoh di atas berlanjut dengan kondisi seperti ini. Kita asumsikan pula bahwa perusahaan Y pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan Gemilang.
Pada akhirnya, tidak berapa lama setelah Gemilang digunakan, berbagai keluhan pun muncul. Berbagai kebutuhan yang seharusnya diakomodir oleh Gemilang tidak berjalan sesuai harapan. Berbagai kelebihan-kelebihan Gemilang yang ditonjolkan oleh perusahaan Z ternyata tidak tepat guna. Kendala-kendala lain pun bermunculan sehingga berbagai harapan yang diletakkan pada Gemilang pun kandas di tengah jalan. Kondisi implementasi Gemilang pun seperti pepatah jauh panggang dari api.
Harapan yang muncul di benak pimpinan perusahaan Y terlalu tinggi; jauh lebih tinggi dari apa yang dapat dicapai Gemilang saat diimplementasikan di perusahaan Y. Inilah yang saya maksud dengan over expectation. Ketimpangan informasi telah membuat pimpinan perusahaan Y berharap terlalu banyak kepada Gemilang.
Memang benar kalau ketimpangan informasi bukan satu-satunya penyebab over expectation. Dari contoh di atas saja kita dapat temukan beberapa penyebab lain. Akan tetapi, saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai penyebab over expectation ini. Yang terpenting adalah kita sudah mendapat gambaran mengenai over expectation ini.
Under Utilization
Lalu bagaimana dengan under utilization? Akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya.
Over Expectation
Penyebab munculnya over expectation yang sering saya temukan secara umum berputar pada ketimpangan informasi. Penyebab ketimpangan informasi ini antara lain karena pencarian informasi yang tidak berimbang, pengaruh marketing campaign yang dahsyat, atau kecenderungan terhadap produk dengan merk-merk tertentu. Ketimpangan informasi ini yang menyebabkan para pengguna (atau calon pengguna) memiliki harapan yang berlebihan pada TI. Saat implementasi TI selesai dilakukan, mereka pun kecewa karena hasil implementasi TI itu tidak sesuai dengan keinginan (dan juga kebutuhan) mereka.
Contohnya seperti ini. Misalkan tim marketing dari perusahaan Z mempresentasikan solusi TI kepada pimpinan perusahaan Y. Kita umpamakan solusi TI yang ditawarkan itu bernama Gemilang. Dalam presentasi itu tentu saja yang dikedepankan adalah kelebihan-kelebihan dari Gemilang. Yang diperlihatkan pada pimpinan perusahaan Y tentu saja hal-hal positif yang dapat diperoleh dengan mengimplementasikan Gemilang di perusahaan Y.
Dari presentasi di atas berlanjut dengan POC (Proof of Concept). Di sini, tim dari perusahaan Z akan datang kembali ke perusahaan Y untuk memperlihatkan simulasi teknis implementasi Gemilang. Dengan environment yang kondusif, simulasi teknis Gemilang ini berjalan lancar. Kita asumsikan saja pimpinan perusahaan Y benar-benar terkesan dengan simulasi teknis ini. Pada titik ini, kecenderungan pimpinan perusahaan Y untuk menggunakan Gemilang sudah semakin besar. Apalagi Gemilang ini merupakan produk yang dikembangkan oleh perusahaan A2Z (baca: A to Z, A sampai Z). Perusahaan Z hanya bertindak sebagai reseller. Berhubung perusahaan Y menggunakan banyak produk perusahaan A2Z, maka tingkat kepercayaan perusahaan Y kepada Gemilang pun meningkat.
Kecenderungan perusahaan Y kepada Gemilang akan semakin bertambah besar bila tim dari perusahaan Y pun tidak dapat mengimbangi gelombang informasi di atas dengan informasi yang lebih objektif dan berimbang. Kalau tim dari perusahaan Y sendiri tidak dapat menilai Gemilang secara objektif, maka ketimpangan informasi yang sudah terjadi pun akan bertambah jomplang. Kita asumsikan contoh di atas berlanjut dengan kondisi seperti ini. Kita asumsikan pula bahwa perusahaan Y pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan Gemilang.
Pada akhirnya, tidak berapa lama setelah Gemilang digunakan, berbagai keluhan pun muncul. Berbagai kebutuhan yang seharusnya diakomodir oleh Gemilang tidak berjalan sesuai harapan. Berbagai kelebihan-kelebihan Gemilang yang ditonjolkan oleh perusahaan Z ternyata tidak tepat guna. Kendala-kendala lain pun bermunculan sehingga berbagai harapan yang diletakkan pada Gemilang pun kandas di tengah jalan. Kondisi implementasi Gemilang pun seperti pepatah jauh panggang dari api.
Harapan yang muncul di benak pimpinan perusahaan Y terlalu tinggi; jauh lebih tinggi dari apa yang dapat dicapai Gemilang saat diimplementasikan di perusahaan Y. Inilah yang saya maksud dengan over expectation. Ketimpangan informasi telah membuat pimpinan perusahaan Y berharap terlalu banyak kepada Gemilang.
Memang benar kalau ketimpangan informasi bukan satu-satunya penyebab over expectation. Dari contoh di atas saja kita dapat temukan beberapa penyebab lain. Akan tetapi, saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai penyebab over expectation ini. Yang terpenting adalah kita sudah mendapat gambaran mengenai over expectation ini.
Under Utilization
Lalu bagaimana dengan under utilization? Akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya.
Minggu, 31 Juli 2011
Saat Kaskus Diblokir
Kebebasan berekspresi di Internet itu pada dasarnya diakui untuk semua orang. Kita diperbolehkan menggunakan berbagai media di Internet untuk mengekspresikan isi pikiran kita. Kita diperbolehkan mengeluarkan pendapat sesuka kita seperti di forum-forum daring (online), di blog pribadi masing-masing, di blog orang lain, di Facebook, di Twitter, atau berbagai situs lain di Internet. Kita pun bebas mengakses informasi apa pun dari mana pun di Internet. Tidak ada batasan apa pun yang diberlakukan di Internet. Inilah kondisi ideal kebebasan berekspresi di Internet.
Akan tetapi, kondisi ideal tersebut harus disertai rasa tanggung jawab dari setiap pengguna Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap ekspresi yang dituangkannya di Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disebarkannya lewat Internet. Dengan begitu, setiap pengguna Internet pun akan mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Inilah kondisi ideal yang hakiki akan kebebasan berekspresi di Internet.
Mungkinkah kita mencapai kondisi ideal yang hakiki itu? Mungkin saja. Hanya saja mencapai kondisi ideal yang hakiki itu rasanya sulit. Mengapa? Karena menumbuhkan rasa tanggung jawab di setiap pribadi pengguna Internet bukanlah hal yang mudah. Manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat seenak hatinya. Jadi, wajar saja kalau menumbuhkan rasa tanggung jawab itu tidak mudah.
Mulai dari pribadi-pribadi dengan pikiran yang belum matang (umumnya remaja) sampai pribadi-pribadi dewasa yang memiliki masalah pribadi, jumlah pengguna Internet yang ingin berekspresi seenak hatinya itu tidak sedikit. Didorong dengan kenyataan bahwa identitas itu dapat disembunyikan dengan mudah di Internet, jumlah pengguna Internet yang ingin bebas berekspresi tanpa batas sama sekali itu sangat banyak.
Kita pun sampai pada judul tulisan ini: Saat Kaskus Diblokir. Saat urusan internal instansi dibeberkan di Kaskus, yaitu sebuah forum daring yang dapat diakses oleh siapa saja, pengelola jaringan (kemungkinan atas perintah atasan yang berwenang) akhirnya menutup akses ke Kaskus. Apakah masalahnya terpecahkan? Kemungkinan besar tidak. Alternatif jalur untuk mengakses Kaskus itu tidak sedikit. Dengan menggunakan modem wireless, misalnya, akses ke Kaskus tetap terbuka lebar.
Menelusuri identitas oknum terkait pun bukan hal yang mudah. Kaskus mungkin terikat dengan komitmen untuk menutup akses terhadap identitas penggunanya seperti alamat email atau informasi lainnya. Kalau oknum terkait cukup cerdas untuk menutupi jejaknya, dia bisa saja membuat username baru (yang didaftarkan dengan alamat email yang juga baru dibuat) demi kepentingan membeberkan urusan internal instansi tersebut.
Walaupun begitu, pihak yang berwenang akhirnya memilih untuk membatasi kebebasan pegawai di instansi terkait untuk mengakses Kaskus. Membatasi akses ke Kaskus mungkin saja mempersulit banyak orang. Ada banyak informasi (asalkan kita mahir memilah) yang dapat diperoleh dari Kaskus. Apakah aksi blokir Kaskus ini salah? Pertanyaan ini selayaknya ditujukan pada oknum yang memicu blokir tersebut.
Seperti contoh blokir Kaskus di atas, saya yakin tidak sedikit urusan blokir akses ke situs-situs tertentu itu dipicu oleh kasus penyalahgunaan dari pengguna Internet sendiri. Blokir-blokir itu bermunculan karena para pengguna Internet tidak menggunakan fasilitas dan media yang tersedia di Internet dengan bijaksana. Akibat dari penggunaan Internet yang tidak bertanggung jawab itulah blokir-blokir situs itu terjadi.
Terlepas dari benar atau salahnya contoh kasus di atas, ada satu pelajaran yang dapat kita ambil. Bahwasanya penyebab dikekangnya kebebasan berekspresi dan mengakses informasi dari Internet itu juga disebabkan karena para pengguna Internet seringkali tidak bertanggung jawab. Kalau saja oknum pada contoh di atas tidak ceroboh dan membeberkan urusan internal instansi di Kaskus, urusan blokir Kaskus kemungkinan besar tidak akan muncul ke permukaan.
Blokir Kaskus di atas memang hanya contoh kecil dari kekangan terhadap kebebasan berekspresi. Masih banyak contoh-contoh kekangan lain yang dihadapi oleh pengguna Internet. Kadang alasan kekangan itu dapat diterima, namun saya justru lebih sering mendengar kritik-kritik pedas bin tajam terhadap kekangan ini. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin dibelenggu oleh pihak mana pun. Apalagi di dunia Internet yang jauh lebih bebas, pengguna Internet sudah pasti tidak ingin kebebasan berekspresi mereka ditekan.
Yang terjadi adalah konflik kepentingan. Para pengguna Internet ingin dibebaskan berbagi informasi dan mengeluarkan pendapat di Internet. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa kenyamanan dan keamanan mereka terganggu dengan informasi dan pendapat tersebut. Pencemaran nama baik adalah salah satu kepentingan yang paling sering berbenturan dengan kebebasan berekspresi ini. Tidak sedikit pihak yang merasa khawatir produk yang mereka jual, usaha yang mereka jalankan, atau diri mereka sendiri dicoreng nama baiknya oleh ekspresi tidak bertanggung jawab dari para pengguna Internet.
Saya pernah mendengar kabar bahwa seorang blogger akhirnya memutuskan untuk mencabut salah satu post yang sudah dia publikasikan karena ada permintaan secara langsung dari pihak yang merasa dirugikan dengan adanya post tersebut. Saya sendiri pernah menurunkan salah satu post di blog saya karena alasan yang serupa tapi tak sama. Saat itu ada seseorang yang memberikan komentar berupa himbauan agar post saya itu diturunkan karena dikhawatirkan akan memiliki dampak yang tidak sehat. Setelah saya pertimbangkan, saya pun memutuskan untuk menurunkan post itu.
Dua contoh di atas hanya contoh kecil akan konflik kepentingan. Pihak yang satu ingin menyampaikan informasi yang benar sebanyak mungkin, sementara pihak yang lain ingin agar informasi tersebut tidak disebarluaskan. Ada kalanya konflik kepentingan ini ditanggapi dengan (terlalu?) serius sampai akhirnya dibawa ke meja hijau seperti halnya kasus Prita Mulyasari. Masih banyak contoh-contoh konflik kepentingan lain yang terkait dengan kebebasan berekspresi di Internet.
Ketertiban dan keamanan pun kadang berada di sisi yang berlawanan dengan kebebasan berekspresi. Tengok saja demonstrasi yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Demonstrasi-demonstrasi itu merupakan implementasi kebebasan berekspresi yang diwujudkan dalam dunia nyata. Yang ditantang lewat demonstrasi itu pun tidak tanggung-tanggung, yaitu para pemimpin yang berkuasa saat itu. Tidak heran bila pemimpin-pemimpin di negara lain yang belum digoncang demonstrasi memilih untuk melakukan antisipasi dengan "membunuh" pendapat-pendapat yang berpotensi menggoyang pemerintahan. Para pemimpin ini melakukan pengekangan itu karena mereka tidak ingin ada keributan di negara mereka.
Terlihat jelas bahwa konflik kepentingan dalam konteks kebebasan berekspresi itu tidak hanya berskala kecil, yaitu hanya melibatkan beberapa pihak saja. Seperti halnya demonstrasi di negara-negara Timur Tengah itu, kebebasan berekspresi di Internet mampu menggulingkan sebuah rezim pemerintahan dan bahkan mempengaruhi rakyat di negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Pihak-pihak yang terlibat di sini tentu saja bukan sembarang pihak. Skala dari konflik kepentingan yang terjadi pun sampai ke skala internasional.
Kebebasan berekspresi akan selalu berada di posisi yang senantiasa ditarik dan diulur. Setiap insan mengakui keberadaan hak ini dan berharap bahwa hak kebebasan berekspresi ini akan dilindungi oleh pihak yang berwenang. Semua orang ingin diberikan kebebasan untuk mengekspresikan isi pikirannya dan menyatakan pendapatnya di Internet. Akan tetapi, kebebasan ini langsung dikritik atau bahkan dibungkam bila dianggap merugikan pihak-pihak tertentu. Ironisnya adalah pihak yang membungkam itu mungkin saja merupakan pihak yang sama yang menginginkan kebebasan berekspresinya sendiri dipertahankan. Begitulah kondisi kebebasan berekspresi di dunia ini: kadang dikekang, kadang dilepas bebas.
Semakin jelas bahwa kebebasan berekspresi yang ideal itu sulit dicapai; apalagi kondisi ideal yang hakiki. Bukan hanya sulit untuk membangun kesadaran pengguna Internet untuk bertanggung jawab dalam setiap ekspresi dan informasi yang dituangkan di Internet, tapi juga sulit karena terbentur oleh kepentingan berbagai pihak. Yang paling mungkin untuk dilakukan adalah membangun kesadaran untuk berekspresi dengan penuh tanggung jawab. Tentunya hal ini dimulai dari pribadi masing-masing pengguna Internet; termasuk saya sendiri.
Untuk masalah kepentingan yang berbenturan dengan kebebasan berekspresi di atas, kita bisa mulai dengan lebih berhati-hati saat menyebarkan informasi di Internet. Apabila kita menjadi pihak yang merasa dirugikan dengan informasi yang disebarkan di Internet, kita harus punya alasan yang baik untuk berkelit. Satu hal yang pasti, menyikapi berita miring dengan bijaksana itu lebih terhormat ketimbang membabi buta membungkam mulut para penyebar berita. Dengan bersikap bijaksana, baik sebagai pihak yang menyebar informasi, pihak yang menerima informasi, atau pihak yang terkait dalam informasi yang disebarkan, kebebasan berekspresi dapat diterapkan secara optimal tanpa harus menabrak kepentingan pihak manapun.
Selamat berekspresi dan berbagi informasi di Internet!
Akan tetapi, kondisi ideal tersebut harus disertai rasa tanggung jawab dari setiap pengguna Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap ekspresi yang dituangkannya di Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disebarkannya lewat Internet. Dengan begitu, setiap pengguna Internet pun akan mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Inilah kondisi ideal yang hakiki akan kebebasan berekspresi di Internet.
Mungkinkah kita mencapai kondisi ideal yang hakiki itu? Mungkin saja. Hanya saja mencapai kondisi ideal yang hakiki itu rasanya sulit. Mengapa? Karena menumbuhkan rasa tanggung jawab di setiap pribadi pengguna Internet bukanlah hal yang mudah. Manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat seenak hatinya. Jadi, wajar saja kalau menumbuhkan rasa tanggung jawab itu tidak mudah.
Mulai dari pribadi-pribadi dengan pikiran yang belum matang (umumnya remaja) sampai pribadi-pribadi dewasa yang memiliki masalah pribadi, jumlah pengguna Internet yang ingin berekspresi seenak hatinya itu tidak sedikit. Didorong dengan kenyataan bahwa identitas itu dapat disembunyikan dengan mudah di Internet, jumlah pengguna Internet yang ingin bebas berekspresi tanpa batas sama sekali itu sangat banyak.
Kita pun sampai pada judul tulisan ini: Saat Kaskus Diblokir. Saat urusan internal instansi dibeberkan di Kaskus, yaitu sebuah forum daring yang dapat diakses oleh siapa saja, pengelola jaringan (kemungkinan atas perintah atasan yang berwenang) akhirnya menutup akses ke Kaskus. Apakah masalahnya terpecahkan? Kemungkinan besar tidak. Alternatif jalur untuk mengakses Kaskus itu tidak sedikit. Dengan menggunakan modem wireless, misalnya, akses ke Kaskus tetap terbuka lebar.
Menelusuri identitas oknum terkait pun bukan hal yang mudah. Kaskus mungkin terikat dengan komitmen untuk menutup akses terhadap identitas penggunanya seperti alamat email atau informasi lainnya. Kalau oknum terkait cukup cerdas untuk menutupi jejaknya, dia bisa saja membuat username baru (yang didaftarkan dengan alamat email yang juga baru dibuat) demi kepentingan membeberkan urusan internal instansi tersebut.
Walaupun begitu, pihak yang berwenang akhirnya memilih untuk membatasi kebebasan pegawai di instansi terkait untuk mengakses Kaskus. Membatasi akses ke Kaskus mungkin saja mempersulit banyak orang. Ada banyak informasi (asalkan kita mahir memilah) yang dapat diperoleh dari Kaskus. Apakah aksi blokir Kaskus ini salah? Pertanyaan ini selayaknya ditujukan pada oknum yang memicu blokir tersebut.
Seperti contoh blokir Kaskus di atas, saya yakin tidak sedikit urusan blokir akses ke situs-situs tertentu itu dipicu oleh kasus penyalahgunaan dari pengguna Internet sendiri. Blokir-blokir itu bermunculan karena para pengguna Internet tidak menggunakan fasilitas dan media yang tersedia di Internet dengan bijaksana. Akibat dari penggunaan Internet yang tidak bertanggung jawab itulah blokir-blokir situs itu terjadi.
Terlepas dari benar atau salahnya contoh kasus di atas, ada satu pelajaran yang dapat kita ambil. Bahwasanya penyebab dikekangnya kebebasan berekspresi dan mengakses informasi dari Internet itu juga disebabkan karena para pengguna Internet seringkali tidak bertanggung jawab. Kalau saja oknum pada contoh di atas tidak ceroboh dan membeberkan urusan internal instansi di Kaskus, urusan blokir Kaskus kemungkinan besar tidak akan muncul ke permukaan.
Blokir Kaskus di atas memang hanya contoh kecil dari kekangan terhadap kebebasan berekspresi. Masih banyak contoh-contoh kekangan lain yang dihadapi oleh pengguna Internet. Kadang alasan kekangan itu dapat diterima, namun saya justru lebih sering mendengar kritik-kritik pedas bin tajam terhadap kekangan ini. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin dibelenggu oleh pihak mana pun. Apalagi di dunia Internet yang jauh lebih bebas, pengguna Internet sudah pasti tidak ingin kebebasan berekspresi mereka ditekan.
Yang terjadi adalah konflik kepentingan. Para pengguna Internet ingin dibebaskan berbagi informasi dan mengeluarkan pendapat di Internet. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa kenyamanan dan keamanan mereka terganggu dengan informasi dan pendapat tersebut. Pencemaran nama baik adalah salah satu kepentingan yang paling sering berbenturan dengan kebebasan berekspresi ini. Tidak sedikit pihak yang merasa khawatir produk yang mereka jual, usaha yang mereka jalankan, atau diri mereka sendiri dicoreng nama baiknya oleh ekspresi tidak bertanggung jawab dari para pengguna Internet.
Saya pernah mendengar kabar bahwa seorang blogger akhirnya memutuskan untuk mencabut salah satu post yang sudah dia publikasikan karena ada permintaan secara langsung dari pihak yang merasa dirugikan dengan adanya post tersebut. Saya sendiri pernah menurunkan salah satu post di blog saya karena alasan yang serupa tapi tak sama. Saat itu ada seseorang yang memberikan komentar berupa himbauan agar post saya itu diturunkan karena dikhawatirkan akan memiliki dampak yang tidak sehat. Setelah saya pertimbangkan, saya pun memutuskan untuk menurunkan post itu.
Dua contoh di atas hanya contoh kecil akan konflik kepentingan. Pihak yang satu ingin menyampaikan informasi yang benar sebanyak mungkin, sementara pihak yang lain ingin agar informasi tersebut tidak disebarluaskan. Ada kalanya konflik kepentingan ini ditanggapi dengan (terlalu?) serius sampai akhirnya dibawa ke meja hijau seperti halnya kasus Prita Mulyasari. Masih banyak contoh-contoh konflik kepentingan lain yang terkait dengan kebebasan berekspresi di Internet.
Ketertiban dan keamanan pun kadang berada di sisi yang berlawanan dengan kebebasan berekspresi. Tengok saja demonstrasi yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Demonstrasi-demonstrasi itu merupakan implementasi kebebasan berekspresi yang diwujudkan dalam dunia nyata. Yang ditantang lewat demonstrasi itu pun tidak tanggung-tanggung, yaitu para pemimpin yang berkuasa saat itu. Tidak heran bila pemimpin-pemimpin di negara lain yang belum digoncang demonstrasi memilih untuk melakukan antisipasi dengan "membunuh" pendapat-pendapat yang berpotensi menggoyang pemerintahan. Para pemimpin ini melakukan pengekangan itu karena mereka tidak ingin ada keributan di negara mereka.
Terlihat jelas bahwa konflik kepentingan dalam konteks kebebasan berekspresi itu tidak hanya berskala kecil, yaitu hanya melibatkan beberapa pihak saja. Seperti halnya demonstrasi di negara-negara Timur Tengah itu, kebebasan berekspresi di Internet mampu menggulingkan sebuah rezim pemerintahan dan bahkan mempengaruhi rakyat di negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Pihak-pihak yang terlibat di sini tentu saja bukan sembarang pihak. Skala dari konflik kepentingan yang terjadi pun sampai ke skala internasional.
Kebebasan berekspresi akan selalu berada di posisi yang senantiasa ditarik dan diulur. Setiap insan mengakui keberadaan hak ini dan berharap bahwa hak kebebasan berekspresi ini akan dilindungi oleh pihak yang berwenang. Semua orang ingin diberikan kebebasan untuk mengekspresikan isi pikirannya dan menyatakan pendapatnya di Internet. Akan tetapi, kebebasan ini langsung dikritik atau bahkan dibungkam bila dianggap merugikan pihak-pihak tertentu. Ironisnya adalah pihak yang membungkam itu mungkin saja merupakan pihak yang sama yang menginginkan kebebasan berekspresinya sendiri dipertahankan. Begitulah kondisi kebebasan berekspresi di dunia ini: kadang dikekang, kadang dilepas bebas.
Semakin jelas bahwa kebebasan berekspresi yang ideal itu sulit dicapai; apalagi kondisi ideal yang hakiki. Bukan hanya sulit untuk membangun kesadaran pengguna Internet untuk bertanggung jawab dalam setiap ekspresi dan informasi yang dituangkan di Internet, tapi juga sulit karena terbentur oleh kepentingan berbagai pihak. Yang paling mungkin untuk dilakukan adalah membangun kesadaran untuk berekspresi dengan penuh tanggung jawab. Tentunya hal ini dimulai dari pribadi masing-masing pengguna Internet; termasuk saya sendiri.
Untuk masalah kepentingan yang berbenturan dengan kebebasan berekspresi di atas, kita bisa mulai dengan lebih berhati-hati saat menyebarkan informasi di Internet. Apabila kita menjadi pihak yang merasa dirugikan dengan informasi yang disebarkan di Internet, kita harus punya alasan yang baik untuk berkelit. Satu hal yang pasti, menyikapi berita miring dengan bijaksana itu lebih terhormat ketimbang membabi buta membungkam mulut para penyebar berita. Dengan bersikap bijaksana, baik sebagai pihak yang menyebar informasi, pihak yang menerima informasi, atau pihak yang terkait dalam informasi yang disebarkan, kebebasan berekspresi dapat diterapkan secara optimal tanpa harus menabrak kepentingan pihak manapun.
Selamat berekspresi dan berbagi informasi di Internet!
Langganan:
Postingan (Atom)