Minggu, 31 Juli 2011

Saat Kaskus Diblokir

Kebebasan berekspresi di Internet itu pada dasarnya diakui untuk semua orang. Kita diperbolehkan menggunakan berbagai media di Internet untuk mengekspresikan isi pikiran kita. Kita diperbolehkan mengeluarkan pendapat sesuka kita seperti di forum-forum daring (online), di blog pribadi masing-masing, di blog orang lain, di Facebook, di Twitter, atau berbagai situs lain di Internet. Kita pun bebas mengakses informasi apa pun dari mana pun di Internet. Tidak ada batasan apa pun yang diberlakukan di Internet. Inilah kondisi ideal kebebasan berekspresi di Internet.

Akan tetapi, kondisi ideal tersebut harus disertai rasa tanggung jawab dari setiap pengguna Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap ekspresi yang dituangkannya di Internet. Setiap pengguna Internet harus bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disebarkannya lewat Internet. Dengan begitu, setiap pengguna Internet pun akan mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Inilah kondisi ideal yang hakiki akan kebebasan berekspresi di Internet.

Mungkinkah kita mencapai kondisi ideal yang hakiki itu? Mungkin saja. Hanya saja mencapai kondisi ideal yang hakiki itu rasanya sulit. Mengapa? Karena menumbuhkan rasa tanggung jawab di setiap pribadi pengguna Internet bukanlah hal yang mudah. Manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat seenak hatinya. Jadi, wajar saja kalau menumbuhkan rasa tanggung jawab itu tidak mudah.

Mulai dari pribadi-pribadi dengan pikiran yang belum matang (umumnya remaja) sampai pribadi-pribadi dewasa yang memiliki masalah pribadi, jumlah pengguna Internet yang ingin berekspresi seenak hatinya itu tidak sedikit. Didorong dengan kenyataan bahwa identitas itu dapat disembunyikan dengan mudah di Internet, jumlah pengguna Internet yang ingin bebas berekspresi tanpa batas sama sekali itu sangat banyak.

Kita pun sampai pada judul tulisan ini: Saat Kaskus Diblokir. Saat urusan internal instansi dibeberkan di Kaskus, yaitu sebuah forum daring yang dapat diakses oleh siapa saja, pengelola jaringan (kemungkinan atas perintah atasan yang berwenang) akhirnya menutup akses ke Kaskus. Apakah masalahnya terpecahkan? Kemungkinan besar tidak. Alternatif jalur untuk mengakses Kaskus itu tidak sedikit. Dengan menggunakan modem wireless, misalnya, akses ke Kaskus tetap terbuka lebar.

Menelusuri identitas oknum terkait pun bukan hal yang mudah. Kaskus mungkin terikat dengan komitmen untuk menutup akses terhadap identitas penggunanya seperti alamat email atau informasi lainnya. Kalau oknum terkait cukup cerdas untuk menutupi jejaknya, dia bisa saja membuat username baru (yang didaftarkan dengan alamat email yang juga baru dibuat) demi kepentingan membeberkan urusan internal instansi tersebut.

Walaupun begitu, pihak yang berwenang akhirnya memilih untuk membatasi kebebasan pegawai di instansi terkait untuk mengakses Kaskus. Membatasi akses ke Kaskus mungkin saja mempersulit banyak orang. Ada banyak informasi (asalkan kita mahir memilah) yang dapat diperoleh dari Kaskus. Apakah aksi blokir Kaskus ini salah? Pertanyaan ini selayaknya ditujukan pada oknum yang memicu blokir tersebut.

Seperti contoh blokir Kaskus di atas, saya yakin tidak sedikit urusan blokir akses ke situs-situs tertentu itu dipicu oleh kasus penyalahgunaan dari pengguna Internet sendiri. Blokir-blokir itu bermunculan karena para pengguna Internet tidak menggunakan fasilitas dan media yang tersedia di Internet dengan bijaksana. Akibat dari penggunaan Internet yang tidak bertanggung jawab itulah blokir-blokir situs itu terjadi.

Terlepas dari benar atau salahnya contoh kasus di atas, ada satu pelajaran yang dapat kita ambil. Bahwasanya penyebab dikekangnya kebebasan berekspresi dan mengakses informasi dari Internet itu juga disebabkan karena para pengguna Internet seringkali tidak bertanggung jawab. Kalau saja oknum pada contoh di atas tidak ceroboh dan membeberkan urusan internal instansi di Kaskus, urusan blokir Kaskus kemungkinan besar tidak akan muncul ke permukaan.

Blokir Kaskus di atas memang hanya contoh kecil dari kekangan terhadap kebebasan berekspresi. Masih banyak contoh-contoh kekangan lain yang dihadapi oleh pengguna Internet. Kadang alasan kekangan itu dapat diterima, namun saya justru lebih sering mendengar kritik-kritik pedas bin tajam terhadap kekangan ini. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingin dibelenggu oleh pihak mana pun. Apalagi di dunia Internet yang jauh lebih bebas, pengguna Internet sudah pasti tidak ingin kebebasan berekspresi mereka ditekan.

Yang terjadi adalah konflik kepentingan. Para pengguna Internet ingin dibebaskan berbagi informasi dan mengeluarkan pendapat di Internet. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa kenyamanan dan keamanan mereka terganggu dengan informasi dan pendapat tersebut. Pencemaran nama baik adalah salah satu kepentingan yang paling sering berbenturan dengan kebebasan berekspresi ini. Tidak sedikit pihak yang merasa khawatir produk yang mereka jual, usaha yang mereka jalankan, atau diri mereka sendiri dicoreng nama baiknya oleh ekspresi tidak bertanggung jawab dari para pengguna Internet.

Saya pernah mendengar kabar bahwa seorang blogger akhirnya memutuskan untuk mencabut salah satu post yang sudah dia publikasikan karena ada permintaan secara langsung dari pihak yang merasa dirugikan dengan adanya post tersebut. Saya sendiri pernah menurunkan salah satu post di blog saya karena alasan yang serupa tapi tak sama. Saat itu ada seseorang yang memberikan komentar berupa himbauan agar post saya itu diturunkan karena dikhawatirkan akan memiliki dampak yang tidak sehat. Setelah saya pertimbangkan, saya pun memutuskan untuk menurunkan post itu.

Dua contoh di atas hanya contoh kecil akan konflik kepentingan. Pihak yang satu ingin menyampaikan informasi yang benar sebanyak mungkin, sementara pihak yang lain ingin agar informasi tersebut tidak disebarluaskan. Ada kalanya konflik kepentingan ini ditanggapi dengan (terlalu?) serius sampai akhirnya dibawa ke meja hijau seperti halnya kasus Prita Mulyasari. Masih banyak contoh-contoh konflik kepentingan lain yang terkait dengan kebebasan berekspresi di Internet.

Ketertiban dan keamanan pun kadang berada di sisi yang berlawanan dengan kebebasan berekspresi. Tengok saja demonstrasi yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Demonstrasi-demonstrasi itu merupakan implementasi kebebasan berekspresi yang diwujudkan dalam dunia nyata. Yang ditantang lewat demonstrasi itu pun tidak tanggung-tanggung, yaitu para pemimpin yang berkuasa saat itu. Tidak heran bila pemimpin-pemimpin di negara lain yang belum digoncang demonstrasi memilih untuk melakukan antisipasi dengan "membunuh" pendapat-pendapat yang berpotensi menggoyang pemerintahan. Para pemimpin ini melakukan pengekangan itu karena mereka tidak ingin ada keributan di negara mereka.

Terlihat jelas bahwa konflik kepentingan dalam konteks kebebasan berekspresi itu tidak hanya berskala kecil, yaitu hanya melibatkan beberapa pihak saja. Seperti halnya demonstrasi di negara-negara Timur Tengah itu, kebebasan berekspresi di Internet mampu menggulingkan sebuah rezim pemerintahan dan bahkan mempengaruhi rakyat di negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Pihak-pihak yang terlibat di sini tentu saja bukan sembarang pihak. Skala dari konflik kepentingan yang terjadi pun sampai ke skala internasional.

Kebebasan berekspresi akan selalu berada di posisi yang senantiasa ditarik dan diulur. Setiap insan mengakui keberadaan hak ini dan berharap bahwa hak kebebasan berekspresi ini akan dilindungi oleh pihak yang berwenang. Semua orang ingin diberikan kebebasan untuk mengekspresikan isi pikirannya dan menyatakan pendapatnya di Internet. Akan tetapi, kebebasan ini langsung dikritik atau bahkan dibungkam bila dianggap merugikan pihak-pihak tertentu. Ironisnya adalah pihak yang membungkam itu mungkin saja merupakan pihak yang sama yang menginginkan kebebasan berekspresinya sendiri dipertahankan. Begitulah kondisi kebebasan berekspresi di dunia ini: kadang dikekang, kadang dilepas bebas.

Semakin jelas bahwa kebebasan berekspresi yang ideal itu sulit dicapai; apalagi kondisi ideal yang hakiki. Bukan hanya sulit untuk membangun kesadaran pengguna Internet untuk bertanggung jawab dalam setiap ekspresi dan informasi yang dituangkan di Internet, tapi juga sulit karena terbentur oleh kepentingan berbagai pihak. Yang paling mungkin untuk dilakukan adalah membangun kesadaran untuk berekspresi dengan penuh tanggung jawab. Tentunya hal ini dimulai dari pribadi masing-masing pengguna Internet; termasuk saya sendiri.

Untuk masalah kepentingan yang berbenturan dengan kebebasan berekspresi di atas, kita bisa mulai dengan lebih berhati-hati saat menyebarkan informasi di Internet. Apabila kita menjadi pihak yang merasa dirugikan dengan informasi yang disebarkan di Internet, kita harus punya alasan yang baik untuk berkelit. Satu hal yang pasti, menyikapi berita miring dengan bijaksana itu lebih terhormat ketimbang membabi buta membungkam mulut para penyebar berita. Dengan bersikap bijaksana, baik sebagai pihak yang menyebar informasi, pihak yang menerima informasi, atau pihak yang terkait dalam informasi yang disebarkan, kebebasan berekspresi dapat diterapkan secara optimal tanpa harus menabrak kepentingan pihak manapun.

Selamat berekspresi dan berbagi informasi di Internet!

1 komentar:

  1. Memblokir pengguna mungkin dapat menjadi salah satu jalan untuk menghambat namun apakah itu akan menjamin nantinya perbuatan seperti itu tidak akan terulang lagi. Kalau seseorang memang sudah niat untuk melakukan sebuah tindakan kejahatan, ya cara dan celah apapun akan digunakannya.

    BalasHapus